Postingan

Bagaimana Cinta Hidup dalam Diri Kita?

Berawal dari sebuah pertanyaan sederhana anak kecil siang itu, "Mbak, mbak, tapi bukannya kita berbeda ya dengan mereka?" Pertanyaan sederhana yang bisa menumbuhkan diri seseorang menjadi 'Apa dan Siapa' ke depannya.  Menjawab pertanyaan sederhana tentu juga perlu jawaban yang sederhana. Apalagi ini anak kecil yang masih menduduki bangku SD, yang bahkan mengenal rumus pun masih meraba-raba. Kalau dijawab dengan konteks detail lengkap dengan segala kerumitannya maka bukan hal yang tidak mungkin mereka akan semakin tidak paham dari inti jawaban tersebut. Lantas, saya berkata "Berbeda itu bukan berarti kita gak bisa bersatu. Jadi seberbeda apapun kita, kita harus tetap saling merangkul dan menghargai satu sama lain."  Setelah jawaban itu, seorang anak kecil yang masih memiliki rasa ingin tau yang besar kembali bertanya, "Mbak kalau sama temen mbak yang beda agama, beda daerah misal kayak aku Jawa Timur, temen mbak ada di jauh sana Jawa Tengah, Jawa Barat, ...

Aku Jelek, Aku Item

Ceritanya... (ayo duduk yang rapi, ambil posisi, pastikan posisi saat ini udah paling wenaq buat baca cerita randomku.) Okesiip, jadi malam minggu aku pergi sekeluarga buat cari makan. Di dalam mobil ibu mulai deh cerita biar gak sumpek. Nah, ada satu cerita ibu yang memang hari itu bikin aku gemesh sendiri. Gemeshnya bukan gemesh sayang tapi menyayangkan. Ibu mulai ceritanya kurang lebih begini.  Ibu: "Tadi sore ibu kan ke rumahnya Bu Mawar jenguk Mawar. Ya Allah kasihan, Taa. Masak ya lehernya itu bengkak bener-bener gabisa digerakin gitu." Okta: "Katanya sakit gondongan atau apa gitu, kemarin Rafi bilang. Makanya gak les dulu." Ibu: "Nggak, itu bukan gondongan. Kalau gondongan gak gitu. Ibu kemaren nanya ke Bu Mawar gini, 'Bu, kok Mawar saget bengkak gedi kados niku? (Bu, kok Mawar bisa bengkak besar kayak gitu?) Bu Mawar bilang, 'Mboten semerap bu, Mawar niku winginane dolanan kalih kanca-kancane. Loh kok mantun siram leheripun loro tirose mboten sa...

Siapa Ya?

Sore itu, aku cerita ke ibu soal teman-temanku. Mulai dari pertanyaan ibu, "Gimana kabarnya mbak....?" Pertanyaan klasik yang sepertinya jarang absen untuk memulai kekepoan. Pertanyaan lain kembali bermunculan sampai pada akhirnya aku bercerita soal progres asmara teman-teman yang alhamdulillah sudah menemui jawaban dari penantiannya. Progres dengan berbagai kerikil kecil yang tentunya menghiasi jalanan asmara mereka. Bumbu-bumbu yang memberi rasa dan warna dalam hubungan mereka. Nyatanya, memang tidak ada hubungan yang sangat sempurna. Pasti ada kejutan di dalamnya. Ada yang saling mencintai, tapi keluarga belum merestui. Ada yang keluarga sudah saling menjodohkan, tapi yang menjalankan enggan memulai hubungan. Ada yang tiba-tiba sebar undangan dengan orang yang tidak terduga. Ada yang memberi kejutan sudah lama menjalin hubungan, direstui orang tua, tapi terhalang idealis umur matang untuk menikah. Ada yang sudah didukung orang tua, umur sudah mencukupi, tapi masih bingung ...

Jawaban Tentang Catatanku

Jadi aku tuh bolak-balik tanya temen aku setiap mau melangkah. Tanya ibu dan bapak juga pastinya. Tanya adek yang kadang-kadang jawabannya nyebelin. Tapi ya gitu alurnya. Dulu sebelum terjun di kepenulisan, aku sempet nanya temen-temen deket gimana ya baiknya? Mereka? Support. Alhamdulillah. Ya aku bersyukur bahwa Allah selalu deketin aku dan ngasih aku temen-temen yg baik. Sampai akhirnya aku mutusin buat draft novelku yang pertama. Kisahnya soal kegagalan. Iya, kenapa kegagalan? Karena bagiku banyak orang yang seakan-akan hidupnya diambang kegelapan. Sekalinya kecewa bener-bener pengen berhenti aja.  Aku juga pernah kok ngerasa gagal. Emang sesakit itu rasanya. Karena posisinya bapak tau kenapa aku gitu, bapak cuma bilang "Gapapa hari ini gagal. Gapapa hari ini nyesal. Besok itu waktunya memperbaiki semuanya." sama halnya kayak aku gak mau belajar satu pelajaran karena aku rasa sulit banget buat nangkep hal itu. Bapak bilang, "Semuanya itu emang harus belajar. Sulit bu...

Pesan November Lalu II

*** "Zeyn, apa kau pernah merelakan demi kebahagiaan? Berbohong demi sebuah omong kosong?", tanyaku di sela-sela ia menyeruput kopi. "Yas, tak akan ada yang bisa merelakan dengan mudah. Kau ingat kata Pak Aiman? Rela adalah tingkatan di atas sabar. Barang siapa yang mampu merelakan atas nama Tuhan. Maka ia akan digantikan dengan yang lebih kau butuhkan. Sebab Tuhan akan memberimu yg kau butuhkan bukan kau inginkan. Kebahagiaan yang dikorbankan demi kebahagiaan lainnya akan tergantikan. Sulit, Yas. Tapi, benarkah kau ingin merelakan dia demi teman dekatmu yang bahkan kau melihatnya terluka sedikit pun tak sanggup. Lantas apa kau masih membungkam soal hal itu? Sampai kapan? Sampai kau bagaikan debu tertiup angin kah?" "Aku tidak tahu. Mungkin mengungkapkan dalam doa lebih baik bagiku. Karena aku tak berani," "Kau memang kepala batu. Tapi pikirkan juga perasaanmu. Kau bukan manusia tanpa rasa. Bukan mumi yang mati rasa," Hening kembali tiba,...

Pesan November Lalu

"Bahwa puncak keikhlasan adalah ketika kamu tidak lagi mengungkit kepedihan yang terjadi, namun memaafkan dan saling memperbaiki diri.  Puncak kebijakan adalah ketika kamu mendengar hal buruk tentangmu, namun tetap kau doakan kebajikan bagi saudaramu," kata Zeyn. "Doa buruk tidak perlu dibalas buruk. Sebab apa yang kamu doakan akan kamu dapatkan. Semakin banyak kebaikan doa, semakin banyak kebaikan datang padamu pula," balas Yas. "Yas, sepertinya kamu memang sudah menjadi sesosok perempuan yang dewasa ya. Setelah luka yang kamu rasa. Kamu sadar bahwa melupakan bukanlah cara terbaik dalam hal menghapuskan segala memori pahit yang ada. Sebab, semakin kamu berusaha melupakan, maka ia akan semakin terkenang." Yas hanya tersenyum dan menunduk. Ia tidak tahu apakah dirinya memang benar-benar sudah ada di puncak itu? Atau sekarang ia hanya terus berusaha menutupi dan membentengi diri agar luka-luka itu tidak kembali terbuka. Baginya yang terpenting saat ini a...

November Berganti

"Fay, jika kamu masih di situ mungkin kita akan sering bertemu tiap minggu. Pasalnya aku akan menemuimu di rumah itu. Rumah yang setiap langkah kaki melangkah akan terus terarah. Sejuk. Tenang. Damai. Tentunya membesukmu jika bertemu. Sayangnya, lagi-lagi waktu melambatkan lajuku. Aku tak pernah menyangka, Fay. Aku kembali menemui rumah sejuk itu setelah sekian lama aku tak pernah tahu dan tak mau tahu. Pertama kali kupandangi aku hanya terdiam membisu. Kenapa tidak dari setahun yang lalu? Kenapa baru? Perlu kamu tahu, aku bahagia menginjakkan kakiku di rumah itu. Setelah menghadap-Nya, mencurahkan segalanya, aku pun mendoakanmu juga. Dalam hatiku berkata "Semoga Allah menjagamu di sana, bersama dia dan semoga Allah menjagaku di sini, meski masih sendiri dan mencoba membuka hati. Maka, Yaa muqollibal qulubi tsabbit qolbi 'ala diinika wa 'ala tho'atika. Urusan mahabbahku kuserahkan pada-Mu yang menciptakan segala makhluk di muka bumi ini. Berpasang-pasangan telah t...