Postingan

Menampilkan postingan dengan label Love Journey

Bagaimana Cinta Hidup dalam Diri Kita?

Berawal dari sebuah pertanyaan sederhana anak kecil siang itu, "Mbak, mbak, tapi bukannya kita berbeda ya dengan mereka?" Pertanyaan sederhana yang bisa menumbuhkan diri seseorang menjadi 'Apa dan Siapa' ke depannya.  Menjawab pertanyaan sederhana tentu juga perlu jawaban yang sederhana. Apalagi ini anak kecil yang masih menduduki bangku SD, yang bahkan mengenal rumus pun masih meraba-raba. Kalau dijawab dengan konteks detail lengkap dengan segala kerumitannya maka bukan hal yang tidak mungkin mereka akan semakin tidak paham dari inti jawaban tersebut. Lantas, saya berkata "Berbeda itu bukan berarti kita gak bisa bersatu. Jadi seberbeda apapun kita, kita harus tetap saling merangkul dan menghargai satu sama lain."  Setelah jawaban itu, seorang anak kecil yang masih memiliki rasa ingin tau yang besar kembali bertanya, "Mbak kalau sama temen mbak yang beda agama, beda daerah misal kayak aku Jawa Timur, temen mbak ada di jauh sana Jawa Tengah, Jawa Barat, ...

Siapa Ya?

Sore itu, aku cerita ke ibu soal teman-temanku. Mulai dari pertanyaan ibu, "Gimana kabarnya mbak....?" Pertanyaan klasik yang sepertinya jarang absen untuk memulai kekepoan. Pertanyaan lain kembali bermunculan sampai pada akhirnya aku bercerita soal progres asmara teman-teman yang alhamdulillah sudah menemui jawaban dari penantiannya. Progres dengan berbagai kerikil kecil yang tentunya menghiasi jalanan asmara mereka. Bumbu-bumbu yang memberi rasa dan warna dalam hubungan mereka. Nyatanya, memang tidak ada hubungan yang sangat sempurna. Pasti ada kejutan di dalamnya. Ada yang saling mencintai, tapi keluarga belum merestui. Ada yang keluarga sudah saling menjodohkan, tapi yang menjalankan enggan memulai hubungan. Ada yang tiba-tiba sebar undangan dengan orang yang tidak terduga. Ada yang memberi kejutan sudah lama menjalin hubungan, direstui orang tua, tapi terhalang idealis umur matang untuk menikah. Ada yang sudah didukung orang tua, umur sudah mencukupi, tapi masih bingung ...

Pesan November Lalu II

*** "Zeyn, apa kau pernah merelakan demi kebahagiaan? Berbohong demi sebuah omong kosong?", tanyaku di sela-sela ia menyeruput kopi. "Yas, tak akan ada yang bisa merelakan dengan mudah. Kau ingat kata Pak Aiman? Rela adalah tingkatan di atas sabar. Barang siapa yang mampu merelakan atas nama Tuhan. Maka ia akan digantikan dengan yang lebih kau butuhkan. Sebab Tuhan akan memberimu yg kau butuhkan bukan kau inginkan. Kebahagiaan yang dikorbankan demi kebahagiaan lainnya akan tergantikan. Sulit, Yas. Tapi, benarkah kau ingin merelakan dia demi teman dekatmu yang bahkan kau melihatnya terluka sedikit pun tak sanggup. Lantas apa kau masih membungkam soal hal itu? Sampai kapan? Sampai kau bagaikan debu tertiup angin kah?" "Aku tidak tahu. Mungkin mengungkapkan dalam doa lebih baik bagiku. Karena aku tak berani," "Kau memang kepala batu. Tapi pikirkan juga perasaanmu. Kau bukan manusia tanpa rasa. Bukan mumi yang mati rasa," Hening kembali tiba,...

Pesan November Lalu

"Bahwa puncak keikhlasan adalah ketika kamu tidak lagi mengungkit kepedihan yang terjadi, namun memaafkan dan saling memperbaiki diri.  Puncak kebijakan adalah ketika kamu mendengar hal buruk tentangmu, namun tetap kau doakan kebajikan bagi saudaramu," kata Zeyn. "Doa buruk tidak perlu dibalas buruk. Sebab apa yang kamu doakan akan kamu dapatkan. Semakin banyak kebaikan doa, semakin banyak kebaikan datang padamu pula," balas Yas. "Yas, sepertinya kamu memang sudah menjadi sesosok perempuan yang dewasa ya. Setelah luka yang kamu rasa. Kamu sadar bahwa melupakan bukanlah cara terbaik dalam hal menghapuskan segala memori pahit yang ada. Sebab, semakin kamu berusaha melupakan, maka ia akan semakin terkenang." Yas hanya tersenyum dan menunduk. Ia tidak tahu apakah dirinya memang benar-benar sudah ada di puncak itu? Atau sekarang ia hanya terus berusaha menutupi dan membentengi diri agar luka-luka itu tidak kembali terbuka. Baginya yang terpenting saat ini a...

November Berganti

"Fay, jika kamu masih di situ mungkin kita akan sering bertemu tiap minggu. Pasalnya aku akan menemuimu di rumah itu. Rumah yang setiap langkah kaki melangkah akan terus terarah. Sejuk. Tenang. Damai. Tentunya membesukmu jika bertemu. Sayangnya, lagi-lagi waktu melambatkan lajuku. Aku tak pernah menyangka, Fay. Aku kembali menemui rumah sejuk itu setelah sekian lama aku tak pernah tahu dan tak mau tahu. Pertama kali kupandangi aku hanya terdiam membisu. Kenapa tidak dari setahun yang lalu? Kenapa baru? Perlu kamu tahu, aku bahagia menginjakkan kakiku di rumah itu. Setelah menghadap-Nya, mencurahkan segalanya, aku pun mendoakanmu juga. Dalam hatiku berkata "Semoga Allah menjagamu di sana, bersama dia dan semoga Allah menjagaku di sini, meski masih sendiri dan mencoba membuka hati. Maka, Yaa muqollibal qulubi tsabbit qolbi 'ala diinika wa 'ala tho'atika. Urusan mahabbahku kuserahkan pada-Mu yang menciptakan segala makhluk di muka bumi ini. Berpasang-pasangan telah t...

No-vember No-partner No-problem

Sudah beranjak menuju dua puluh dua. Lagi-lagi tidak berjalan berdua. Kalau klisenya berkata belum waktunya. Pertanyaan-pertanyaan 'punya siapa?' selalu memenuhi kepala. Tidak di rumah saja, bahkan di luar rumah, di mana saja selalu ada. Padahal baginya sendiri itu biasa saja untuk kali ini. Memang lebih indah jika berdua, tapi kalau belum siap semuanya mau berkata apa? Masih ada sisa waktu yang baginya akan cepat berlalu. Bertahun-tahun mendatang akan tiba masanya memutuskan untuk memulai catatan baru, dengan orang baru, keluarga baru, dan lingkungan baru. Sudahlah, tahun ini No-vember No-partner No-problem.  .......................... Siang itu, seorang perempuan bertanya pada ibunya, "Bu, kalau nanti kakak sudah dewasa, udah gede, udah bisa bertanggung jawab entah untuk diri sendiri, keluarga atau lainnya, kakak boleh milih siapa yang mau kakak pilih jadi pasangan hidup? Ibu boleh mempertimbangkan tapi tetap kakak yang memutuskan. Boleh gak bu?" Ibunya tertawa keci...

OK-TO-BERsihin Hati dan Pikiran

Berkembangnya digitalisasi gak lepas dari yang namanya sosial media. Kalau dulu lagi ngetrend-ngetrendnya facebook. Semua bikin facebook, semua upload di facebook, semua berinteraksi lewat facebook. Setelah agak pudar, tahun 2011-2012'an twitter booming. Mention-mentionan, jawab simsimi di twitter, sampai ngeretweet apapun yg lewat di timeline. Setelah 2 account itu, ada lagi yang namanya ask.fm. Sebuah platform yang khusus untuk seru-seruan dan kepo-kepoan. Apapun bisa ditanya di sana. Bahkan bisa menyembunyikan identitas atau yang dikenal sebagai si "Anonim". Ini lumayan bikin emosi kalau yang ditanya itu soal pribadi, bisa dijadikan media hujat yang parah banget dengan bersembunyi dibalik julukan anonim. Di samping ketiga platform itu, tentunya line juga sebagai pelengkap. Apalagi dilengkapi dengan stiker-stiker lucu nan menggemaskan. Themenya juga yang bikin diri bucin koin banget biar bisa beli tema yang diinginkan. Udah lumayan nih kan aplikasinya? Sekarang ditambah...

OK-TO-BERnostalgia

 "Apa kau memberi kabar bahagia ini padanya pula, Yas?" "Tidak. Aku pikir lebih baik tidak memberi harapan kepada seseorang yang aku tau bahwa aku tidak bisa mempertanggungjawabkan itu."  "Aku pikir kamu akan memberitahunya, aku pikir dia masih spesial di matamu." "Tidak sama sekali. Yang sudah lewat, biarlah lewat. Dia harus tegas untuk melanjutkan perjalanannya. Sedangkan aku juga harus tegas untuk tidak merespon lebih apapun tentang pesannya. Bahkan aku tidak membalasnya."  "Kamu sudah lebih dewasa dari Yas yang kukenal 3 tahun lalu. Kamu berhak bahagia, Yas. Kamu berhak menemukan yang terbaik untukmu nantinya. Biarlah lembaran usang tetap terpajang tanpa ingin kau coba untuk pasang kembali."  "Iya, kamu benar. Ada orang yang tanpa harus jatuh dia sudah bisa meraih apa yang ia inginkan dan butuhkan. Tapi, orang sepertiku, soal perasaan sepertinya perlu jatuh dahulu, terluka, baru bisa melangkah lagi dengan pasti." -Memories...

Kamu dan Saya-Selesai

Orang yang merasa berbuat kesalahan, akan berujung pada sebuah persembunyian. Padahal, tau tidak? Jika saya benar-benar merasa baik-baik saja? Tau tidak bahwa saya memang sudah sejauh itu merasa bodo amat dengan semua hal yang berkaitan denganmu. Nyatanya, per hari ini saya tau bahwa perasaan itu tumbuh begitu utuh untukmu. Sedangkan untuk saya sudah jatuh dan runtuh begitu sempurna. Jadi tidak perlu adanya sesuatu yang harus kembali dibangun secara utuh.  Kamu tau tidak? Apa yang kamu sembunyikan itu saya tau. Postingan yg selama ini tersembunyikan. Hehe. Kamu ingat tidak? Bukankah saya pernah berkata bahwa seseorang tidak perlu memberi tau siapa dirinya kepada orang lain. Ia akan mengetahuinya sendiri. Cepat atau lambat. Kamu itu kenapa sih? Udah usang terus saja berusaha untuk dipasang. Apa tidak mau hanya jadi yang terpajang?  Sudahlah, saya ini benar-benar tidak apa-apa. Saya jauh lebih baik-baik saja dari yg kamu kira. Bertahun-tahun bagi saya itu sudah cukup untuk tau s...

Kita Akan Terbiasa dengan Baik-baik Saja

          Semua sudah menjadi baik-baik saja. Ketika kita disakiti kemudian memaafkan dengan setulus hati, kita sudah baik dan baik-baik saja. Ketika kita dikhianati, lalu mengikhlaskan dengan sepenuh hati, kita sudah baik dan baik-baik saja. Ketika apapun yang menghampiri dalam hidup, lantas kita cari hikmah dan hal positif akan sebuah kejadian, kita sudah membaik dan baik-baik saja.           Teruslah berbaik hati, membaikkan hati, dan baik-baik saja dalam urusan hati.

Dari Sini

    Dari sini semuanya seakan abadi. Berdiam diri tanpa hal yang pasti.  Saya tidak pernah tau bagaimana diri ini masih bisa tersenyum dengan berdiri. Berjalan dengan penuh keyakinan. Melangkah dengan kehati-hatian.      Dari sini bayanganmu menari-nari. Mampir kemudian pergi. Menitipkan semesta yang harus terjaga. Semesta cinta yang harus terawat setiap harinya. Disiram, dipupuk, dan disayang. Semuanya. Ia harus tetap cantik sampai nanti waktunya tiba bertemu si pemberi semesta.  Yang memindahkan rumahnya ke dalam diri saya. Sempat menjadikan saya tempat pulang yang paling nyaman.      Dari sini, kamu kemarin pulang, kemudian hari ini kamu kembali pergi entah ke mana. Sampai di mana langkahmu berjalan?  Dari sini ada semesta dan rumahmu yang temaram. Gelap tanpa kehidupan. Kamu lupa bahwa kamu tidak hanya bisa menyuruhku untuk merawatnya sepanjang masa. Tapi kamu juga harus ada di dalamnya untuk selalu mengawasinya b...

Dari Mana?

  Dari mana semuanya bermula? Dari kata saya? Dari kata kita? Dari mana?  Dari mana semua harus berakhir?  Dari jarak saya?  Dari jarak kita? Dari mana?  Dari mana harus mencari?      Kamu yang aman berdiam di sana. Tersenyum seakan semua oke-oke saja. Membaca ini dengan membaringkan kepalamu di sisi sandaran benda. Bertumpu dengan kepasrahan. Sudahkah kamu tanyakan pada diri?  Sampai mana kamu bawa hubungan ini?  Sampai diperaduan untuk mengucap salam perpisahan atau sampai di penghujung jalan untuk menjalin sebuah ikatan?

Dari Sana

    Dari sana kamu gapernah tau seberapa gigih tekad terus tertindih. Rasanya berhari-hari gapernah paham seberapa keras hati menahan.  Dari sana kamu gapernah tau seperti apa kabar selalu tidak pernah absen semenjak hari itu. Gapernah paham kan seberapa keras pertahanan runtuh begitu saja.     Memang sepantasnya begitu, dari sana kamu seakan kulihat aman sejahtera. Baik tanpa luka. Bahagia dengan senyum merekahmu setiap waktu.     Dari sana kamu gapernah tau ada yang selalu memandang tanpa dipandang. Pernah menjadi yang sayang sampai akhirnya dari sana kamu tetap diam di sana. Tidak berkutik ke mana-mana. Tidak berbuat seperti yang orang kira. Tidak berlagak semena-mena.      Sebab dari sana dirimu ada. Ada untuk tidak kembali pulang kepada semesta.  Mengucap salam tanpa saling menatap mata.

Doa-doa Menerima

Soal menerima adalah jalan yang menjadi pilihan atau terpilih dari sebuah kebuntuan. Menjadi pilihan karena itu adalah bulat sebuah keputusan yang dipertimbangkan. Atau justru itu adalah alternatif dari sebuah kebuntuan. Memunculkan beberapa partikel harapan setelahnya. Setelah menerima akan muncul doa-doa.  Doa-doa yang khidmat dipanjatkan kepada Sang Pemilik Kuasa. Tidak ada yang lebih istimewa dari menerima, lantas memohon yang terbaik menurut-Nya. Sebab manusia mungkin saja memiliki kuasa tapi yang berkuasa atas itu semua tetaplah Dia.  Lantas apakah menerima masih menjadi jalan satu-satunya? Atau justru itu adalah jalan nomor satu dari segalanya?  :)

Rela

Rela pun tidak hanya bisa diucapkan dengan entengnya. Kita bukan hanya melibatkan bibir yang berbicara. Tapi menyinkronkan hati dan logika untuk legowo menerima. Menerima untuk berani melepaskan secara perlahan. Tidak lagi menggenggam yang benar-benar bukan menjadi pilihannya. Bukan prioritasnya.  Rela adalah perkara berlapang dada. Melapangkan segala hal yang sesak dalam dada. Hingga akhirnya benar-benar bisa menerima.

Pamit

Perihal pamit, setiap orang akan merasakan haru yang membiru. Kadang disembunyikan lewat senyuman. Kadang dibebaskan dengan tangisan. Kadang dibalut kegengsian dengan seakan-akan tidak mempedulikan.  Perihal pamit selalu memiliki caranya sendiri. Entah dengan sopan dan santun. Atau entah pergi begitu saja tanpa ada lagi kabarnya.  Pamit memang begitu. Suka resek di satu waktu. Kita hanya memiliki satu pilihan. Dia adalah kerelaan atas sebuah kepergian.

Sebuah Kehilangan

Ini kisah tentang sebuah kehilangan. Sebentar, tidak tepat rasanya jika saya sebut ini kehilangan. Karena pada kenyataannya kita tidak benar-benar memiliki satu sama lain. Saya, memiliki dia di dalam diri saya. Tapi, saya di dalam diri dia belum tentu begitu adanya. Mungkin, ini menjadi kisah yang mewarnai tahun ini. Awal tahun yang sangat berwarna. Haha. Bagaimana tidak? Karena setelah sekian lama, sekian hari, saya kembali dipertemukan dengan sebuah kisah yang hampir sama pada tahun-tahun lalu. Tapi kali ini, tentunya lebih dari sebelumnya. Entah bagaimana maksud “lebih” yang saya tuliskan di sini. Sulit untuk saya ungkapkan, tapi ini benar-benar nyata saya rasakan.             Ada beberapa hal yang pernah saya ucapkan hanya ke satu orang. Semua orang saya yakini memiliki rahasia tersendiri yang tidak mudah ia bagi ke banyak orang. Bisa saja dia bagi tentang A ke si B. Tentang C ke si A, dan sebagainya. Mengapa demikian? Ya ka...

Teka-Teki Hati

Kalau bicara soal hati itu bakalan panjang sekali. Soal hati siapa yang tau? Hari ini bisa suka, besok bisa aja biasa aja. Keesokan harinya bilang kangen, terus kependam sampai akhirnya ya tidak tersampaikan. Kalau bicara soal pengalaman, ini mah udah bukan lagi hal yang baru. Bedanya hanya pada setiap rincian kisahnya yang selalu memberi kisah baru. Entah itu haru biru atau haru pilu.  Pernah ada yang bertanya bagaimana soal perasaan saya? Bagaimana perihal luka-luka yang sudah berhasil diobati atau memang nyatanya hanya alibi untuk menutup luka itu terbuka kembali. Ya, itu kembali ke diri saya lagi. Saya sempat berpikir bahwa mungkin seseorang akan terus mencari dan mencari sampai dia itu lelah dengan pencariannya sendiri, bukan karena tidak menemukan yang dicari. Tapi dia memilih untuk menyudahi. Apa sih yang dikejar di dunia ini? Apa yang dicari selama ini? Kalau cari yang tampan, banyak. Cari yang tajir melipir, cari aja yang udah stay dengan istilah 'tetap' juga ...
"Tidak semua harus sekuat yang kamu inginkan. Tidak semua harus sesuai dengan yang kamu kehendaki." -Blahbatuh, 2020.
Aku sudah memalu rindu. Sebab rindu yang malu hanya berucap ingin temu dan tak mau tau.