Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Doa-doa Menerima

Soal menerima adalah jalan yang menjadi pilihan atau terpilih dari sebuah kebuntuan. Menjadi pilihan karena itu adalah bulat sebuah keputusan yang dipertimbangkan. Atau justru itu adalah alternatif dari sebuah kebuntuan. Memunculkan beberapa partikel harapan setelahnya. Setelah menerima akan muncul doa-doa.  Doa-doa yang khidmat dipanjatkan kepada Sang Pemilik Kuasa. Tidak ada yang lebih istimewa dari menerima, lantas memohon yang terbaik menurut-Nya. Sebab manusia mungkin saja memiliki kuasa tapi yang berkuasa atas itu semua tetaplah Dia.  Lantas apakah menerima masih menjadi jalan satu-satunya? Atau justru itu adalah jalan nomor satu dari segalanya?  :)

Rela

Rela pun tidak hanya bisa diucapkan dengan entengnya. Kita bukan hanya melibatkan bibir yang berbicara. Tapi menyinkronkan hati dan logika untuk legowo menerima. Menerima untuk berani melepaskan secara perlahan. Tidak lagi menggenggam yang benar-benar bukan menjadi pilihannya. Bukan prioritasnya.  Rela adalah perkara berlapang dada. Melapangkan segala hal yang sesak dalam dada. Hingga akhirnya benar-benar bisa menerima.

Pamit

Perihal pamit, setiap orang akan merasakan haru yang membiru. Kadang disembunyikan lewat senyuman. Kadang dibebaskan dengan tangisan. Kadang dibalut kegengsian dengan seakan-akan tidak mempedulikan.  Perihal pamit selalu memiliki caranya sendiri. Entah dengan sopan dan santun. Atau entah pergi begitu saja tanpa ada lagi kabarnya.  Pamit memang begitu. Suka resek di satu waktu. Kita hanya memiliki satu pilihan. Dia adalah kerelaan atas sebuah kepergian.

Sebuah Penyelesaian "Baikan Aja Yaa"

Gambar
   Hmm udah hampir sebulan lebih diem. Beberapa orang mulai mengupload kenangan-kenangan yang terkenang di kening. Beberapa memberikan pengharapan pada captionnya. Doanya sama meskipun dengan penyampaian yang berbeda. Semua ingin kembali menjadi normal. Keadaan yang gak pernah terprediksi sebelumnya. Gapernah dikira bakal sesepi ini. Bagaimana jika hidup saya sudah sepi? Lalu diisi kesepian kembali? Apa mau marah dengan diri sendiri? Apa mau iri dengan orang lain? Apa mau menghakimi sekitar saya?     Gabisa dan gaada yang perlu dilakuin untuk bikin diri makin menyedihkan. Saya rasa baikan dengan keadaan adalah peredanya. Penawar segala gundah yang tiap hari selalu berusaha untuk ditepis. Meski kemungkinan untuk menghilangkan secara sempurna itu tipis. Udah yuk, baikan aja ya? Mau gak? Apa gak capek?

Sebuah Pengharapan "Yasudah, Setelah ini Kita... "

Gambar
   Mungkin banyak banget di antara kita yang udah berdoa dan merencanakan banyak hal. Perencanaan yang pingin banget cepet terlaksana setelah musibah ini selesai. Dari sekian kangen, rencana itu muncul di kepala. Setelah ini saya mau menghabiskan waktu untuk bertemu mereka. Setelah ini saya mau jalan-jalan menyusuri alam. Setelah ini saya mau marathon nonton bioskop. Setelah ini saya mau nongki sampek larut malam lagi.  Setelah ini saya mau aktif panitia lagi. Setelah ini saya mau kerja lebih rajin lagi. Setelah ini saya mau kejar pencapaian saya kembali. Dan masih banyak setelah ini saya dengan versi lainnya.     Keadaan gini bikin kita cuma bisa pasrah dan tetap saling mendoakan. Ingat,  Tuhan gapernah ngasih kesulitan di luar kemampuan kita sebagai ciptaan-Nya. Ini semua pasti berakhir. Sekarang untuk sekadar mengucap yasudah,  setelah ini kita... itu aja udah bikin bahagia. Semoga bentuk pasrah dan berserah ini mewujudkan segala keingina...

Sebuah Penyampaian "Aku Kangen Kamu"

Gambar
   Saya menulis beberapa harapan yang mungkin hari ini menjadi harapan banyak orang pula. Menulis berbagai kenangan yang ingin dikembalikan seperti semula. Hmm. Gimana ya bilangnya? Mungkin gak saya aja yang ngerasain ini sekarang. Sebuah perasaan yang mewakili setiap orang. Kalau kemarin-kemarin mungkin ini menjadi permasalahan perasaan satu atau dua orang saja.   KANGEN. Iya, sekarang perasaan itu tumbuh sendiri dalam diri. Kian hari kian tinggi. Sebentar ya, hmm bukannya setiap kangen selalu menemui tuan/puannya? Dan yang kita kenal ya temu. Eitts, sebentar dulu. Kali ini tuan/puannya bukan lagi soal temu yg utama. Tapi kembali. Kembali menjadi baik-baik saja tanpa kata gapapa di depannya. Kenapa? Karena gapapa itu keraguan. Gapapa itu kadang kepalsuan. Gapapa itu kadang menyakitkan. Dan saya mau semuanya baik tanpa keraguan, kepalsuan dan hal-hal yg menyakitkan.

Sebuah Kehilangan

Ini kisah tentang sebuah kehilangan. Sebentar, tidak tepat rasanya jika saya sebut ini kehilangan. Karena pada kenyataannya kita tidak benar-benar memiliki satu sama lain. Saya, memiliki dia di dalam diri saya. Tapi, saya di dalam diri dia belum tentu begitu adanya. Mungkin, ini menjadi kisah yang mewarnai tahun ini. Awal tahun yang sangat berwarna. Haha. Bagaimana tidak? Karena setelah sekian lama, sekian hari, saya kembali dipertemukan dengan sebuah kisah yang hampir sama pada tahun-tahun lalu. Tapi kali ini, tentunya lebih dari sebelumnya. Entah bagaimana maksud “lebih” yang saya tuliskan di sini. Sulit untuk saya ungkapkan, tapi ini benar-benar nyata saya rasakan.             Ada beberapa hal yang pernah saya ucapkan hanya ke satu orang. Semua orang saya yakini memiliki rahasia tersendiri yang tidak mudah ia bagi ke banyak orang. Bisa saja dia bagi tentang A ke si B. Tentang C ke si A, dan sebagainya. Mengapa demikian? Ya ka...