Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Jawaban Tentang Catatanku

Jadi aku tuh bolak-balik tanya temen aku setiap mau melangkah. Tanya ibu dan bapak juga pastinya. Tanya adek yang kadang-kadang jawabannya nyebelin. Tapi ya gitu alurnya. Dulu sebelum terjun di kepenulisan, aku sempet nanya temen-temen deket gimana ya baiknya? Mereka? Support. Alhamdulillah. Ya aku bersyukur bahwa Allah selalu deketin aku dan ngasih aku temen-temen yg baik. Sampai akhirnya aku mutusin buat draft novelku yang pertama. Kisahnya soal kegagalan. Iya, kenapa kegagalan? Karena bagiku banyak orang yang seakan-akan hidupnya diambang kegelapan. Sekalinya kecewa bener-bener pengen berhenti aja.  Aku juga pernah kok ngerasa gagal. Emang sesakit itu rasanya. Karena posisinya bapak tau kenapa aku gitu, bapak cuma bilang "Gapapa hari ini gagal. Gapapa hari ini nyesal. Besok itu waktunya memperbaiki semuanya." sama halnya kayak aku gak mau belajar satu pelajaran karena aku rasa sulit banget buat nangkep hal itu. Bapak bilang, "Semuanya itu emang harus belajar. Sulit bu...

Pesan November Lalu II

*** "Zeyn, apa kau pernah merelakan demi kebahagiaan? Berbohong demi sebuah omong kosong?", tanyaku di sela-sela ia menyeruput kopi. "Yas, tak akan ada yang bisa merelakan dengan mudah. Kau ingat kata Pak Aiman? Rela adalah tingkatan di atas sabar. Barang siapa yang mampu merelakan atas nama Tuhan. Maka ia akan digantikan dengan yang lebih kau butuhkan. Sebab Tuhan akan memberimu yg kau butuhkan bukan kau inginkan. Kebahagiaan yang dikorbankan demi kebahagiaan lainnya akan tergantikan. Sulit, Yas. Tapi, benarkah kau ingin merelakan dia demi teman dekatmu yang bahkan kau melihatnya terluka sedikit pun tak sanggup. Lantas apa kau masih membungkam soal hal itu? Sampai kapan? Sampai kau bagaikan debu tertiup angin kah?" "Aku tidak tahu. Mungkin mengungkapkan dalam doa lebih baik bagiku. Karena aku tak berani," "Kau memang kepala batu. Tapi pikirkan juga perasaanmu. Kau bukan manusia tanpa rasa. Bukan mumi yang mati rasa," Hening kembali tiba,...

Pesan November Lalu

"Bahwa puncak keikhlasan adalah ketika kamu tidak lagi mengungkit kepedihan yang terjadi, namun memaafkan dan saling memperbaiki diri.  Puncak kebijakan adalah ketika kamu mendengar hal buruk tentangmu, namun tetap kau doakan kebajikan bagi saudaramu," kata Zeyn. "Doa buruk tidak perlu dibalas buruk. Sebab apa yang kamu doakan akan kamu dapatkan. Semakin banyak kebaikan doa, semakin banyak kebaikan datang padamu pula," balas Yas. "Yas, sepertinya kamu memang sudah menjadi sesosok perempuan yang dewasa ya. Setelah luka yang kamu rasa. Kamu sadar bahwa melupakan bukanlah cara terbaik dalam hal menghapuskan segala memori pahit yang ada. Sebab, semakin kamu berusaha melupakan, maka ia akan semakin terkenang." Yas hanya tersenyum dan menunduk. Ia tidak tahu apakah dirinya memang benar-benar sudah ada di puncak itu? Atau sekarang ia hanya terus berusaha menutupi dan membentengi diri agar luka-luka itu tidak kembali terbuka. Baginya yang terpenting saat ini a...

November Berganti

"Fay, jika kamu masih di situ mungkin kita akan sering bertemu tiap minggu. Pasalnya aku akan menemuimu di rumah itu. Rumah yang setiap langkah kaki melangkah akan terus terarah. Sejuk. Tenang. Damai. Tentunya membesukmu jika bertemu. Sayangnya, lagi-lagi waktu melambatkan lajuku. Aku tak pernah menyangka, Fay. Aku kembali menemui rumah sejuk itu setelah sekian lama aku tak pernah tahu dan tak mau tahu. Pertama kali kupandangi aku hanya terdiam membisu. Kenapa tidak dari setahun yang lalu? Kenapa baru? Perlu kamu tahu, aku bahagia menginjakkan kakiku di rumah itu. Setelah menghadap-Nya, mencurahkan segalanya, aku pun mendoakanmu juga. Dalam hatiku berkata "Semoga Allah menjagamu di sana, bersama dia dan semoga Allah menjagaku di sini, meski masih sendiri dan mencoba membuka hati. Maka, Yaa muqollibal qulubi tsabbit qolbi 'ala diinika wa 'ala tho'atika. Urusan mahabbahku kuserahkan pada-Mu yang menciptakan segala makhluk di muka bumi ini. Berpasang-pasangan telah t...

No-vember No-partner No-problem

Sudah beranjak menuju dua puluh dua. Lagi-lagi tidak berjalan berdua. Kalau klisenya berkata belum waktunya. Pertanyaan-pertanyaan 'punya siapa?' selalu memenuhi kepala. Tidak di rumah saja, bahkan di luar rumah, di mana saja selalu ada. Padahal baginya sendiri itu biasa saja untuk kali ini. Memang lebih indah jika berdua, tapi kalau belum siap semuanya mau berkata apa? Masih ada sisa waktu yang baginya akan cepat berlalu. Bertahun-tahun mendatang akan tiba masanya memutuskan untuk memulai catatan baru, dengan orang baru, keluarga baru, dan lingkungan baru. Sudahlah, tahun ini No-vember No-partner No-problem.  .......................... Siang itu, seorang perempuan bertanya pada ibunya, "Bu, kalau nanti kakak sudah dewasa, udah gede, udah bisa bertanggung jawab entah untuk diri sendiri, keluarga atau lainnya, kakak boleh milih siapa yang mau kakak pilih jadi pasangan hidup? Ibu boleh mempertimbangkan tapi tetap kakak yang memutuskan. Boleh gak bu?" Ibunya tertawa keci...
Sudah akan menuju akhir tahun. Tapi keraguan selalu muncul. Bertanya soal rencana. Rasanya planning yang dirancang selalu pening untuk diimplementasikan. Angan dan ingin tidak lagi sejalan. Sisa 2 bulan saja. Harapan dari awal masih sama, ayo berbaik hatilah untuk benar-benar baik-baik saja. Bukan alibi yang mengada-ngada. 

OK-TO-BERsihin Hati dan Pikiran

Berkembangnya digitalisasi gak lepas dari yang namanya sosial media. Kalau dulu lagi ngetrend-ngetrendnya facebook. Semua bikin facebook, semua upload di facebook, semua berinteraksi lewat facebook. Setelah agak pudar, tahun 2011-2012'an twitter booming. Mention-mentionan, jawab simsimi di twitter, sampai ngeretweet apapun yg lewat di timeline. Setelah 2 account itu, ada lagi yang namanya ask.fm. Sebuah platform yang khusus untuk seru-seruan dan kepo-kepoan. Apapun bisa ditanya di sana. Bahkan bisa menyembunyikan identitas atau yang dikenal sebagai si "Anonim". Ini lumayan bikin emosi kalau yang ditanya itu soal pribadi, bisa dijadikan media hujat yang parah banget dengan bersembunyi dibalik julukan anonim. Di samping ketiga platform itu, tentunya line juga sebagai pelengkap. Apalagi dilengkapi dengan stiker-stiker lucu nan menggemaskan. Themenya juga yang bikin diri bucin koin banget biar bisa beli tema yang diinginkan. Udah lumayan nih kan aplikasinya? Sekarang ditambah...

OK-TO-BERnostalgia

 "Apa kau memberi kabar bahagia ini padanya pula, Yas?" "Tidak. Aku pikir lebih baik tidak memberi harapan kepada seseorang yang aku tau bahwa aku tidak bisa mempertanggungjawabkan itu."  "Aku pikir kamu akan memberitahunya, aku pikir dia masih spesial di matamu." "Tidak sama sekali. Yang sudah lewat, biarlah lewat. Dia harus tegas untuk melanjutkan perjalanannya. Sedangkan aku juga harus tegas untuk tidak merespon lebih apapun tentang pesannya. Bahkan aku tidak membalasnya."  "Kamu sudah lebih dewasa dari Yas yang kukenal 3 tahun lalu. Kamu berhak bahagia, Yas. Kamu berhak menemukan yang terbaik untukmu nantinya. Biarlah lembaran usang tetap terpajang tanpa ingin kau coba untuk pasang kembali."  "Iya, kamu benar. Ada orang yang tanpa harus jatuh dia sudah bisa meraih apa yang ia inginkan dan butuhkan. Tapi, orang sepertiku, soal perasaan sepertinya perlu jatuh dahulu, terluka, baru bisa melangkah lagi dengan pasti." -Memories...

OK-TO-BERsedih

Jika banyak orang yang berdoa kepada Tuhannya untuk kebaikan salah satu ummat-Nya. Maka begitu pun saya dengan seadanya. Masih saja yang kufavoritkan adalah perihal kabarmu. Masih saja yang kunantikan perihal kebahagiaanmu. Masih saja yang kutunggu perihal kerja kerasmu. Sampai waktu terus berlalu. Kamu jauh melangkah mencari arah. Tahun demi tahun akan menyapa, waktu akan terus melupa tentang kita. Target-target bukan lagi sebuah tujuan utama, yang penting jalan saja lah ya.  Saya tidak tahu mengapa saya masih saja menunggu kabar baik itu datang darimu. Perihal melepas, saya sudah lepaskan secara ikhlas. Seiring berjalannya waktu, potongan-potongan puzzle yang membuat penasaran sudah pelan-pelan ditemukan. Sebuah titik jawaban. Kamu pergi perlahan menuju jalan pulang. Sendirian. Hingga ke sebuah rumah, kemudian bersandar. Kamu begitu nyaman sampai tidak ingin kembali menjelajah perjalanan. Kisah ini belum tamat. Masih tertimbun sebuah rasa penasaran yang teramat. Tapi mengapa kita...

Maaf, Saya Gagal

Hari ini pengumuman itu tiba. Pengumuman yang sebenarnya bisa dibilang menaruh harap besar, iya. Pasrah juga iya. Ternyata sebelum membuka, saya inisiatif mengecek email. Siapa tau email masuk duluan. Saya refresh ulang berkali-kali tapi isinya hanya pengumuman perkuliahan. Rasanya seperti hilang semangat. Berharap keajaiban akan selalu hadir.  Tapi rupanya keajaiban itu tidak hadir. Saya coba download hasil pengumuman. Ia berurutan dari A-Z. Tentu saya berfokus pada huruf O. Oh rupanya, memang nama saya tidak ada. Saya tidak masuk dalam 750 orang yang ingin berkontribusi untuk negeri. Rasanya mood berantakan. Ternyata kegagalan seperti ini ya rasanya. Saya berulang kali mendapat kegagalan dalam kehidupan. Entah itu daftar masuk perkuliahan atau bahkan daftar pengabdian. Rasanya kenapa seperti ini? Kenapa rasanya kali ini begitu kosong.  Pernah gak sih kalian merasa hal ini? Seperti apa sih gagal yang pernah kalian rasa? Begitu menyakitkan gak sih? Semua pertanyaan itu hanya b...

Kamu dan Saya-Selesai

Orang yang merasa berbuat kesalahan, akan berujung pada sebuah persembunyian. Padahal, tau tidak? Jika saya benar-benar merasa baik-baik saja? Tau tidak bahwa saya memang sudah sejauh itu merasa bodo amat dengan semua hal yang berkaitan denganmu. Nyatanya, per hari ini saya tau bahwa perasaan itu tumbuh begitu utuh untukmu. Sedangkan untuk saya sudah jatuh dan runtuh begitu sempurna. Jadi tidak perlu adanya sesuatu yang harus kembali dibangun secara utuh.  Kamu tau tidak? Apa yang kamu sembunyikan itu saya tau. Postingan yg selama ini tersembunyikan. Hehe. Kamu ingat tidak? Bukankah saya pernah berkata bahwa seseorang tidak perlu memberi tau siapa dirinya kepada orang lain. Ia akan mengetahuinya sendiri. Cepat atau lambat. Kamu itu kenapa sih? Udah usang terus saja berusaha untuk dipasang. Apa tidak mau hanya jadi yang terpajang?  Sudahlah, saya ini benar-benar tidak apa-apa. Saya jauh lebih baik-baik saja dari yg kamu kira. Bertahun-tahun bagi saya itu sudah cukup untuk tau s...
Kadang memaafkan dan mendoakan lebih baik. Gaada bandingan apa-apa lagi. Manusia bisa bikin salah, bahkan tidak membuat salah pun bisa terlihat salah. Bukan karena keadaan yg salah. Tapi 'salah satunya' yg terkadang enggan mengalah.

Bagian Kelam II

Lulus SMK dan melanjutkan kuliah, saya dihadapkan kenyataan bahwa saya 'sendiri' berbeda di kelas. Mungkin di sini tempat saya menguatkan keyakinan atas apa yg saya putuskan. Yap, saya memutuskan berhijab. Saya kira saya akan merasa baik-baik saja. Tapi ternyata trauma itu masih ada. Sangat lekat bahkan. Semester pertama menjadikan saya sosok orang yang hanya diam tanpa banyak bicara. Prinsip saat itu, saya tidak akan bicara jika tidak ada yang mengajak bicara. Rupanya luka lama sangat membekas. Ketakutan itu kian hari kian jelas tak ingin lepas. Ternyata selama ini saya tidak benar-benar merasa baik-baik saja. Saya hanya menyembunyikannya sementara. Sedangkan ketika dihadapkan pada situasi yang sama, kondisinya pun akan sama seperti awal mula trauma.  Dua semester saya lewati begitu saja dengan tanpa banyak bicara. Tapi dari sana saya juga banyak mempelajari suatu hal bahwa saya tidak bisa menilai semua orang dengan pandangan yang sama. Mereka berbeda sengan teman-teman SMP ya...

Bagian Kelam I

Hai, apa kamu membaca part ini? Jika ia, mungkin kamu bisa memberi sepatah kata untuk menyemangati setelah ini. Kamu tentu kenal saya kan? Tapi apakah kamu benar-benar mengenal dan akan terus tetap dekat dengan saya setelah ini? Ada keraguan dalam diri untuk memutuskan bercerita. Bagi saya, cerita ini sedikit sensitif. Ya, sensitif di sini mungkin bisa membuatmu dibanjiri emosi. Saya minta maaf lebih dulu jika nantinya kamu merasa begitu. Bagi saya, apa yang ingin saya bagikan berarti sudah melewati berbagai sebuah pemecahan. Sudah berhasil melepaskan diri dari belenggu yang terus mengganggu.  Saya ingin berbagi cerita. Ini mungkin bagian kelam dalam hidup saya. Ini bukan soal cinta saya dengan lawan jenis. Ini soal apa yang sudah saya lewati sejauh ini. Ini bagian dari sebuah keputus-asaan. Bagian dari sebuah ketidakberdayaan. Iya, saya yang putus asa dan tidak berdaya beberapa tahun silam. Lebih tepatnya ketika menduduki bangku SMP. Hehe. Masih bocil kan? Tapi dari sini mental sa...

Sabar Ya

Kemarin berpesan, bulan depan baik-baik saja ya dengan keadaan. Hari ini kembali berpesan, esok berbaiklah dengan keadaan. Semua hal perlu kebaikan rupanya untuk merasakan baik-baik saja.  Semua keinginan berbulan-bulan tertahankan. Semua impian diredamkan. Semuanya di bawah tekanan. Ingin rasanya menyudahi segala keresahan, kegundahan, kebingungan. Lantas jika ada yang bertanya, "Bagaimana kabarmu?" Bisa menjawab dengan lantang, baik-baik saja seperti keadaan sekarang. Sabar ya, ujian jamaah ini akan menemui kesudahan. Kemudian kita akan merayakan dengan kesenangan dan ketenangan. Bukankah itu yang memang kita idam-idamkan sampai sekarang?  Semoga ya, semoga Tuhan mengabulkan.

Tidak Sekosong Itu

Gak ada manusia sesempurna apapun dilihat mata tidak memendam sebuah kegelisahan dalam hidupnya. Gak ada rasanya yang hidup lempeng-lempeng aja lurus bebas hambatan, bebas rintangan, bebas ujian. Semuanya pasti ada gronjalan.  Ada yang sakit hati diselingkuhi kemudian merasa bahwa dunianya hancur sejadi-jadinya. Ada yang merasa hampa di keluarganya karena tidak pernah terlihat ada, kemudian merasa bahwa dunianya runtuh sejatuh-jatuhnya. Ada yang tidak bisa mengejar impiannya kemudian merasa bahwa dunia begitu menjauhinya. Ada yang tercukupi segala kebutuhannya tapi selalu bertopeng bahagia di depan orang banyak, kemudian merasa bahwa ingin menyudahi dunianya saja. Ada, semua itu ada dan nyata.  Merasa buruk dan terpuruk itu pasti ada. Masa-masa kelam itu memang nyata. Tapi bukankah kita punya Tuhan Yang Maha Besar? Tuhan yang selalu ada untuk kita. Selalu mendengar dan mengaamiinkan segala pinta. Berat untuk mengucap ikhlas dan melepas semuanya. Tapi ini belum seberapa. Tuhan ...

Hidup itu penuh tuntutan ya?

Kata mereka yg merasa terkurung dalam suatu zona. Jika dirasa bahkan hidup sebuah tuntutan, bukankah artinya memang harus melakukan sesuatu dibawah keterpaksaan? Sadar tidak sadar kita selalu berada di posisi bawah. Bawah langit, bawah atasan, bawah aturan, bawah kekuasaan, dan bawah Tuhan.  Roda kehidupan memang selalu berputar, tapi apakah berputar membuatnya merasa teratas? Merasa bahwa atas yang ia pijaki adalah tempat paling mulia dan tertinggi? Enggak kan? Rasanya kebebasan itu suatu hal yang fana. Hidup memang dituntut terus menerus tanpa tergerus. Memang kita berhak untuk memilih kebebasan mana yang mau dijalani, tapi apakah itu membuat diri merasa lepas dari belenggu duniawi? Lagi-lagi pertanyaan akan terus bermunculan. Kata seseorang, hidup jangan banyak tanya. Jalani saja. Ya benar, tapi terkecuali jika kita tersesat. Menjalani hal yang tersesat mungkin akan membawa diri pada keadaan yang lebih buruk. Maka, perlu sebuah pertanyaan.  Tuntutan demi tuntutan itu gak ak...

Tau Gak Kenapa Tuhan Begitu?

 Tau gak kenapa Tuhan belum mengabulkan permintaanmu? Karena Tuhan mau kamu terus berharap ke Dia dan gak berhenti usaha. Sampai waktunya tiba, Tuhan yang Maha Baik bakal super bantuin kamu.  Sampai suatu hal yg sulit bagimu, akan sangat mudah bagi Tuhan untuk menolongmu dan kamu bisa lewatin itu dengan tenang dan senang. Ingat, Tuhan gapernah ingkar janji. Tugasmu, jangan berhenti doa, jangan berhenti usaha.  Bismillah, semangat yaa!

Mantra Doa

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan anugerahnya.... Kalimat klasik yang selalu muncul di setiap paragraf pertama kata pengantar. Yang mengantarkan seorang penulis kepada kalimat terima kasih kepada sesiapa saja yang meluangkan waktu untuk membaca. Yang mengakhiri tulisan dengan permintaan maaf, padahal tidak tahu kesalahan apa yang diperbuat. Hanya menyadari bahwa manusia tidak luput dari kesalahan, tidak sempurna, ucapan maaf menjadi tradisi bagi sesiapa saja.  Maka sebelum mantra kau baca, izinkan saya mengucapkan kedua kalimat pembuka tersebut. Tak lupa atas kepercayaan masing-masing, berdoa...... Hey!  Para phobia doa, mari membaca. Sebab baris setelah ini adalah untuk kita. --DIMULAI... Aku berdoa, di sela-sela rimbun cahaya. Menengok helai demi helai dedaunan yang basah karena embun.  Di dunia ini manusia dilahirkan tanpa tahu siapa orang tua mereka. Tanpa tahu bagaimana hidup mereka. Tanpa tahu akan jadi apa esok hari bila ia tumbuh dewasa. Ti...

Manusia Tempatnya Lupa

 Manusia itu tempatnya lupa.  Kadang, kita bisa lihat padatnya sebuah ibu kota. Kemudian berkata bahwa ibu kota tidak ada apa-apanya. Berkata bahwa keindahan alam tidak ada di sana. Tapi, kita lupa bahwa ibu kota bisa memberikan lebih dari sesuap nasi kepada mereka.  Kadang, kita bisa lihat sebuah desa.  Kemudian berkata bahwa desa tidak ada apa-apanya. Berkata bahwa tidak ada resto maupun mall yamg memanjakan mata. Tapi, kita pun lupa bahwa jika kita berada di sana untuk mengabdi, ada rezeki dan keberkahan yang bisa jadi tidak ditemui disebuah kota mega.  Manusia tempatnya lupa.  Bukan lupa untuk bersyukur. Tapi lupa menyadari bahwa bagaimanapun dan apapun yang ada hari ini adalah hasil 'penemuan' kita dari sekian pencarian. Dari sekian penantian dan kesabaran. Lupa bahwa semuanya sudah dituliskan Tuhan.

Kita Akan Terbiasa dengan Baik-baik Saja

          Semua sudah menjadi baik-baik saja. Ketika kita disakiti kemudian memaafkan dengan setulus hati, kita sudah baik dan baik-baik saja. Ketika kita dikhianati, lalu mengikhlaskan dengan sepenuh hati, kita sudah baik dan baik-baik saja. Ketika apapun yang menghampiri dalam hidup, lantas kita cari hikmah dan hal positif akan sebuah kejadian, kita sudah membaik dan baik-baik saja.           Teruslah berbaik hati, membaikkan hati, dan baik-baik saja dalam urusan hati.

Semoga Bahagia Hingga Nanti

    Akan selalu ada harapan. Akan selalu ada kebaikan. Akan selalu ada keajaiban. Akan selalu ada segala hal baik berdatangan. Akan selalu ada bait-bait doa berbaris pada setiap harinya. Entah dari A. Entah dari B. Entah dari Z. Entah dari S. Entah dari T. Entah dari X. Akan selalu ada dan begitu adanya.      Selamat menjalankan kebaikan, selamat menanam kebaikan. Selamat memanen kebaikan, selamat menyebarkan kebaikan.      Semuanya akan menjadi hal terbaik yang gak pernah diduga-duga. Semangat yaa! Harimu pasti dan akan selalu ada.      Kebaikan akan selalu menghampiri. Semoga bahagia hingga nanti. -Oktafia R. A'20-

Besok Pasti Bahagia

    Mimpi-mimpi itu berjatuhan. Bukan sebab kita, bukan pula salah Tuhan. Tidak ada kesalahan atas apapun yang telah terlewatkan. Tetap tenang. Bukankah kita semua percaya Tuhan tidak pernah tidur? Tidak lelah mencintai ummat-Nya. Tetap tenang. Waktu akan tiba membawa kabar bahagia. Bahkan tidak pernah kita duga. Kebahagiaan datang, kita semua tenang. Kabar baik akan selalu ada. Kabar baik akan tiba dengan cara yang baik pula. Semesta menjanjikan segala-Nya.      Semangat yaa!  Sabar sebentar.  Setelah ini kita bertemu. Setelah ini kita bicara lagi. Setelah ini kita makan bersama lagi. Setelah ini kita membawa kabar baik masing-masing. Setelah ini kita bahagia dan akan selalu begitu adanya. Natural. Lugu. Lucu. Kemudian kita tertawa, lagi-lagi karena bahagia. Kalau pun harus menangis, tangis itu adalah tanda haru bahagia. Semangat yaa! Tersenyum yaa. Besok pasti bahagia. -Oktafia R. A'20-

Dari Sini

    Dari sini semuanya seakan abadi. Berdiam diri tanpa hal yang pasti.  Saya tidak pernah tau bagaimana diri ini masih bisa tersenyum dengan berdiri. Berjalan dengan penuh keyakinan. Melangkah dengan kehati-hatian.      Dari sini bayanganmu menari-nari. Mampir kemudian pergi. Menitipkan semesta yang harus terjaga. Semesta cinta yang harus terawat setiap harinya. Disiram, dipupuk, dan disayang. Semuanya. Ia harus tetap cantik sampai nanti waktunya tiba bertemu si pemberi semesta.  Yang memindahkan rumahnya ke dalam diri saya. Sempat menjadikan saya tempat pulang yang paling nyaman.      Dari sini, kamu kemarin pulang, kemudian hari ini kamu kembali pergi entah ke mana. Sampai di mana langkahmu berjalan?  Dari sini ada semesta dan rumahmu yang temaram. Gelap tanpa kehidupan. Kamu lupa bahwa kamu tidak hanya bisa menyuruhku untuk merawatnya sepanjang masa. Tapi kamu juga harus ada di dalamnya untuk selalu mengawasinya b...

Dari Mana?

  Dari mana semuanya bermula? Dari kata saya? Dari kata kita? Dari mana?  Dari mana semua harus berakhir?  Dari jarak saya?  Dari jarak kita? Dari mana?  Dari mana harus mencari?      Kamu yang aman berdiam di sana. Tersenyum seakan semua oke-oke saja. Membaca ini dengan membaringkan kepalamu di sisi sandaran benda. Bertumpu dengan kepasrahan. Sudahkah kamu tanyakan pada diri?  Sampai mana kamu bawa hubungan ini?  Sampai diperaduan untuk mengucap salam perpisahan atau sampai di penghujung jalan untuk menjalin sebuah ikatan?

Dari Sana

    Dari sana kamu gapernah tau seberapa gigih tekad terus tertindih. Rasanya berhari-hari gapernah paham seberapa keras hati menahan.  Dari sana kamu gapernah tau seperti apa kabar selalu tidak pernah absen semenjak hari itu. Gapernah paham kan seberapa keras pertahanan runtuh begitu saja.     Memang sepantasnya begitu, dari sana kamu seakan kulihat aman sejahtera. Baik tanpa luka. Bahagia dengan senyum merekahmu setiap waktu.     Dari sana kamu gapernah tau ada yang selalu memandang tanpa dipandang. Pernah menjadi yang sayang sampai akhirnya dari sana kamu tetap diam di sana. Tidak berkutik ke mana-mana. Tidak berbuat seperti yang orang kira. Tidak berlagak semena-mena.      Sebab dari sana dirimu ada. Ada untuk tidak kembali pulang kepada semesta.  Mengucap salam tanpa saling menatap mata.

Doa-doa Menerima

Soal menerima adalah jalan yang menjadi pilihan atau terpilih dari sebuah kebuntuan. Menjadi pilihan karena itu adalah bulat sebuah keputusan yang dipertimbangkan. Atau justru itu adalah alternatif dari sebuah kebuntuan. Memunculkan beberapa partikel harapan setelahnya. Setelah menerima akan muncul doa-doa.  Doa-doa yang khidmat dipanjatkan kepada Sang Pemilik Kuasa. Tidak ada yang lebih istimewa dari menerima, lantas memohon yang terbaik menurut-Nya. Sebab manusia mungkin saja memiliki kuasa tapi yang berkuasa atas itu semua tetaplah Dia.  Lantas apakah menerima masih menjadi jalan satu-satunya? Atau justru itu adalah jalan nomor satu dari segalanya?  :)

Rela

Rela pun tidak hanya bisa diucapkan dengan entengnya. Kita bukan hanya melibatkan bibir yang berbicara. Tapi menyinkronkan hati dan logika untuk legowo menerima. Menerima untuk berani melepaskan secara perlahan. Tidak lagi menggenggam yang benar-benar bukan menjadi pilihannya. Bukan prioritasnya.  Rela adalah perkara berlapang dada. Melapangkan segala hal yang sesak dalam dada. Hingga akhirnya benar-benar bisa menerima.

Pamit

Perihal pamit, setiap orang akan merasakan haru yang membiru. Kadang disembunyikan lewat senyuman. Kadang dibebaskan dengan tangisan. Kadang dibalut kegengsian dengan seakan-akan tidak mempedulikan.  Perihal pamit selalu memiliki caranya sendiri. Entah dengan sopan dan santun. Atau entah pergi begitu saja tanpa ada lagi kabarnya.  Pamit memang begitu. Suka resek di satu waktu. Kita hanya memiliki satu pilihan. Dia adalah kerelaan atas sebuah kepergian.

Sebuah Penyelesaian "Baikan Aja Yaa"

Gambar
   Hmm udah hampir sebulan lebih diem. Beberapa orang mulai mengupload kenangan-kenangan yang terkenang di kening. Beberapa memberikan pengharapan pada captionnya. Doanya sama meskipun dengan penyampaian yang berbeda. Semua ingin kembali menjadi normal. Keadaan yang gak pernah terprediksi sebelumnya. Gapernah dikira bakal sesepi ini. Bagaimana jika hidup saya sudah sepi? Lalu diisi kesepian kembali? Apa mau marah dengan diri sendiri? Apa mau iri dengan orang lain? Apa mau menghakimi sekitar saya?     Gabisa dan gaada yang perlu dilakuin untuk bikin diri makin menyedihkan. Saya rasa baikan dengan keadaan adalah peredanya. Penawar segala gundah yang tiap hari selalu berusaha untuk ditepis. Meski kemungkinan untuk menghilangkan secara sempurna itu tipis. Udah yuk, baikan aja ya? Mau gak? Apa gak capek?

Sebuah Pengharapan "Yasudah, Setelah ini Kita... "

Gambar
   Mungkin banyak banget di antara kita yang udah berdoa dan merencanakan banyak hal. Perencanaan yang pingin banget cepet terlaksana setelah musibah ini selesai. Dari sekian kangen, rencana itu muncul di kepala. Setelah ini saya mau menghabiskan waktu untuk bertemu mereka. Setelah ini saya mau jalan-jalan menyusuri alam. Setelah ini saya mau marathon nonton bioskop. Setelah ini saya mau nongki sampek larut malam lagi.  Setelah ini saya mau aktif panitia lagi. Setelah ini saya mau kerja lebih rajin lagi. Setelah ini saya mau kejar pencapaian saya kembali. Dan masih banyak setelah ini saya dengan versi lainnya.     Keadaan gini bikin kita cuma bisa pasrah dan tetap saling mendoakan. Ingat,  Tuhan gapernah ngasih kesulitan di luar kemampuan kita sebagai ciptaan-Nya. Ini semua pasti berakhir. Sekarang untuk sekadar mengucap yasudah,  setelah ini kita... itu aja udah bikin bahagia. Semoga bentuk pasrah dan berserah ini mewujudkan segala keingina...

Sebuah Penyampaian "Aku Kangen Kamu"

Gambar
   Saya menulis beberapa harapan yang mungkin hari ini menjadi harapan banyak orang pula. Menulis berbagai kenangan yang ingin dikembalikan seperti semula. Hmm. Gimana ya bilangnya? Mungkin gak saya aja yang ngerasain ini sekarang. Sebuah perasaan yang mewakili setiap orang. Kalau kemarin-kemarin mungkin ini menjadi permasalahan perasaan satu atau dua orang saja.   KANGEN. Iya, sekarang perasaan itu tumbuh sendiri dalam diri. Kian hari kian tinggi. Sebentar ya, hmm bukannya setiap kangen selalu menemui tuan/puannya? Dan yang kita kenal ya temu. Eitts, sebentar dulu. Kali ini tuan/puannya bukan lagi soal temu yg utama. Tapi kembali. Kembali menjadi baik-baik saja tanpa kata gapapa di depannya. Kenapa? Karena gapapa itu keraguan. Gapapa itu kadang kepalsuan. Gapapa itu kadang menyakitkan. Dan saya mau semuanya baik tanpa keraguan, kepalsuan dan hal-hal yg menyakitkan.

Sebuah Kehilangan

Ini kisah tentang sebuah kehilangan. Sebentar, tidak tepat rasanya jika saya sebut ini kehilangan. Karena pada kenyataannya kita tidak benar-benar memiliki satu sama lain. Saya, memiliki dia di dalam diri saya. Tapi, saya di dalam diri dia belum tentu begitu adanya. Mungkin, ini menjadi kisah yang mewarnai tahun ini. Awal tahun yang sangat berwarna. Haha. Bagaimana tidak? Karena setelah sekian lama, sekian hari, saya kembali dipertemukan dengan sebuah kisah yang hampir sama pada tahun-tahun lalu. Tapi kali ini, tentunya lebih dari sebelumnya. Entah bagaimana maksud “lebih” yang saya tuliskan di sini. Sulit untuk saya ungkapkan, tapi ini benar-benar nyata saya rasakan.             Ada beberapa hal yang pernah saya ucapkan hanya ke satu orang. Semua orang saya yakini memiliki rahasia tersendiri yang tidak mudah ia bagi ke banyak orang. Bisa saja dia bagi tentang A ke si B. Tentang C ke si A, dan sebagainya. Mengapa demikian? Ya ka...

Teka-Teki Hati

Kalau bicara soal hati itu bakalan panjang sekali. Soal hati siapa yang tau? Hari ini bisa suka, besok bisa aja biasa aja. Keesokan harinya bilang kangen, terus kependam sampai akhirnya ya tidak tersampaikan. Kalau bicara soal pengalaman, ini mah udah bukan lagi hal yang baru. Bedanya hanya pada setiap rincian kisahnya yang selalu memberi kisah baru. Entah itu haru biru atau haru pilu.  Pernah ada yang bertanya bagaimana soal perasaan saya? Bagaimana perihal luka-luka yang sudah berhasil diobati atau memang nyatanya hanya alibi untuk menutup luka itu terbuka kembali. Ya, itu kembali ke diri saya lagi. Saya sempat berpikir bahwa mungkin seseorang akan terus mencari dan mencari sampai dia itu lelah dengan pencariannya sendiri, bukan karena tidak menemukan yang dicari. Tapi dia memilih untuk menyudahi. Apa sih yang dikejar di dunia ini? Apa yang dicari selama ini? Kalau cari yang tampan, banyak. Cari yang tajir melipir, cari aja yang udah stay dengan istilah 'tetap' juga ...
"Di setiap kisah asmara akan ada seseorang yang berperan untuk memendam perasaan begitu dalam, bertahun-tahun lamanya. Alasannya cuma karena takut jika mengungkapkan justru kehilangan." - Gyr, 2020.
"Tidak semua harus sekuat yang kamu inginkan. Tidak semua harus sesuai dengan yang kamu kehendaki." -Blahbatuh, 2020.
"Mungkin yang harus dilakukan ketika menemui ketidakjelasan adalah mengikhlaskan. Selepasnya, biarkan. Biarkan mengalir. Sampai menemui muaranya sendiri." - KPPN, 2020.
"Saling bersepakat bahwa yang paling sulit dipahami adalah diri sendiri, sebelum saling bersepakat untuk sibuk dengan diri sendiri. Saling bersepakat bahwa apapun itu kuncinya adalah diri masing-masing, sebelum akhirnya saling asing." - Denpasar, 2020.
"Ada yang memilih untuk menyerah dan pasrah karena memang tidak ada yang lebih baik dari berserah. Ada yang memilih untuk tetap berjalan dan menghadapi tantangan karena memang itu adalah jalannya. Semua pasti pernah merasakan keadaan bingung untuk memilih. Tapi yang jauh lebih mendominasi adalah lelah. Hingga akhirnya berserah dan pasrah menguasai diri." -Denpasar, 2020.
"Prinsipnya simple. Jangan memaksa seseorang untuk menyukaimu dan jangan dipaksa dirimu untuk menyukai orang yang memang tidak pernah berdiam sedetik pun dalam dirimu. Karena soal perasaan tidak sebercanda gurauanmu." - Denpasar, 2020.
"Kadang tidak semua butuh selesai. Mungkin yang tidak diselesaikan adalah penyelesaiannya." -Denpasar, 2020.
"Setiap orang yg 'mempunyai' Rabb-nya (dalam hati, diri, jiwa dan pikirannya ada Rabb-nya). Maka, ia memiliki segalanya.  Tapi, tidak semua orang yg memiliki segalanya 'mempunyai' Rabb-nya."  - Gianyar, 2017.
Aku sudah memalu rindu. Sebab rindu yang malu hanya berucap ingin temu dan tak mau tau. 
"Bukan tidak ada waktu untuk memikirkan selain ujian. Ada. Hal itu pasti ada dan terpikirkan, tapi esensinya yang tersingkirkan, terpinggirkan. Sampai nanti menemukan yang benar-benar tidak tergantikan setelah berbagai ujian." - Jimbaran, 2020.

You Are Only HUMAN

Sometimes if you feel make mistakes, you will judge yourself to be bad person. You will say you are useless or say 'Its shouldn't happen!' But, did you never aware? That's a colour of the life. However you blame the situation. It will happen to you. Why? Because you are only human. I am only human and we are only human. Please, let yourself feel it completely . Let your river of emotion, flow and feel its depth and be kind to yourself. You'll never know "What Happen After That?" you can't predict your life in the future. Stop to blame yourself! Just let it feel completely. It's okay to feel sad. It's okay to feel dissappointed, it's okay to feel hurt. It's okay to feel angry. It's okay to feel everything is not okay.  Sometimes, we forget that we are only HUMAN. There are bound to be unexpected surprises for us and bumps along the way.
"Dunia terlalu sempit untuk pemikiran yang masih mencari pembenaran bukan kebenaran." - Gianyar, 2020.
"Hari itu. Tuhan bersamamu, sampai habis waktu tiba. Saya di sampingmu, sampai tak habis kau bercerita." - Januari, 2019.
"Nanti akan ada waktunya lagi-lagi bilang "Terima kasih Tuhan, Terima kasih semesta" Terus dengan harunya memeluk orang-orang terdekat sambil bilang "Kita udah sampai di titik ini. Terima kasih untuk udah selalu menemani." Kapanpun dan siapapun. Ini pasti." - Gianyar, 2020.
"Selalu ingat bahwa orang tumbuh mendewasa berproses menjadi lebih baik. Tentu dengan versinya masing-masing. Jangan dihakimi, jangan melulu dikucili." -Gianyar, 2020.
“Untuk segala hal yang kamu lakukan hari ini adalah akibat dari keputusanmu di masa lampau. Disadari atau tidak, kamu sudah memilih ini. Setiap langkah yang kamu pilih baik maju ke depan, mundur ke belakang, ke samping kanan dan kiri atau bahkan diam pun. Selalu memiliki risiko di mendatang.” – Gianyar, 2020.

Kita Bukan Hakim Dunia

Ada berbagai hal di dunia ini yang selalu membuat hidup menjadi lebih berwarna. Bahkan yang memberikan duka pun juga termasuk memberi warna, yaitu hitam, kelam. Banyak sekali perspektif mengenai penilaian hidup seseorang. Ada yang menilai hidup itu perlu perjuangan, hidup itu perlu gebrakan, hidup itu harus imbang sampai ada spekulasi bahwa hidup itu tinggal dijalani sesuai arusnya saja. Banyak sekali pandangan orang mengenai memaknai kehidupan. Gak heran dari berbedanya cara pandang juga memunculkan beda argumen. Skala penilaian orang pun jadi lebih bervariatif. Ada sebagian orang yang memiliki sudut pandang untuk melihat secara visual, secara luaran, secara penampilan. Ketika dia lihat orang itu (maaf) kucel, kusam, berantakan, urakan. “Ctakk!” mereka akan mengecap mereka sebagai orang yang buruk. Padahal banyak dari mereka itu belum kenal. Begitu pun sebaliknya, kalau penampilannya good looking , rapi, glowing ala-ala, pokok perfect deh. Mereka akan menilai itu sebagai orang y...