Siapa Ya?

Sore itu, aku cerita ke ibu soal teman-temanku. Mulai dari pertanyaan ibu, "Gimana kabarnya mbak....?" Pertanyaan klasik yang sepertinya jarang absen untuk memulai kekepoan. Pertanyaan lain kembali bermunculan sampai pada akhirnya aku bercerita soal progres asmara teman-teman yang alhamdulillah sudah menemui jawaban dari penantiannya. Progres dengan berbagai kerikil kecil yang tentunya menghiasi jalanan asmara mereka. Bumbu-bumbu yang memberi rasa dan warna dalam hubungan mereka. Nyatanya, memang tidak ada hubungan yang sangat sempurna. Pasti ada kejutan di dalamnya. Ada yang saling mencintai, tapi keluarga belum merestui. Ada yang keluarga sudah saling menjodohkan, tapi yang menjalankan enggan memulai hubungan. Ada yang tiba-tiba sebar undangan dengan orang yang tidak terduga. Ada yang memberi kejutan sudah lama menjalin hubungan, direstui orang tua, tapi terhalang idealis umur matang untuk menikah. Ada yang sudah didukung orang tua, umur sudah mencukupi, tapi masih bingung soal mental yang dirasa belum siap membagi kebahagiaan dan kesedihan berdua. Ada yang sudah klop dengan segalanya. Sayangnya terhalang agama. 

Banyak sekali dan dekat sekali permasalahan-permasalahan timbul. Padahal jika dilihat secara general, hanya kebahagiaan dan keserasian yang terlihat dengan kekuatan cucoklogi yang mumpuni. Ibu yang kuceritakan sebagian dari kisah-kisah asmara teman-temanku yang alhamdulillah sudah saling menemukan, kemudian nyeletuk bertanya, "Semua temen deketmu udah nemu calonnya. Kakak kapan ngenalin calonnya? Kok kamu sendiri belum ngenalin nih?" Aku yang bantuin ibu bungkus, tiba-tiba salting wkwk. Bukan karena malu untuk memperkenalkan sang calon imam atau bilang saja calon mas-a depan. Tapi, realitanya memang belum ada. Sambil malu-malu, aku menjawab "Hehe gak tau nih bu. Belum kelihatan hilalnya. Mau lebaran nanti kayaknya hilalnya kelihatan." Ya, karena pertanyaannya cukup jleb, aku tidak begitu menanggapi dengan serius pertanyaan ibu. Ibu pun sudah hafal betul kalau pertanyaan tersebut pasti tidak memunculkan jawaban yang hipotesisnya "Ya atau Tidak" tapi hanya candaan ringan. Sembari tertawa ibu menyelipkan kalimat yang bagiku adalah doa. 

Ibu berkata, "Nikah dan saling menemukan seseorang untuk hidup bersama dengan jangka waktu yang panjang bukan perlombaan. Sekarang jalani aja, semua kan butuh proses. Pelan-pelan, nanti kalau udah ketemu pasti bahagia. Bahagianya gak dunia aja, tapi akhirat juga insyaaAllah. Nanti pasti ketemu yang terbaik, jodohnya baik, keluarganya baik, saling sayang. Uh gak ada deh kata nyesel ngejomblo lama." 

Deg. rasanya udah berkaca-kaca banget, entah itu sindiran karena aku memang sudah lama tidak menjalin hubungan dalam "ikatan" atau memang yang terlintas dalam pikiran ibu adalah kalimat itu untuk menyemangati anaknya yang tetap dilihat sebagai anak kecil kesayangannya. Apapun yang terucap ibu, bagiku adalah doa. Entah rasanya kalimat itu masih terngiang-ngiang jelas di kepala. Ditambah ekspresiku yang entah antara pengen ketawa karena ada selipan kata jomblo dengan mata berkaca-kaca yang hampir tumpah wkwk. 

Reaksiku tentu mengaamiinkan apa yang diucap ibu dengan embel-embel bahwa aku mau menemukannya sendiri, entah dia dekat denganku saat ini atau pun jauh dari langkah kaki. Bagaimanapun caraku menemukan entah aku yang duluan merasa nyaman nantinya atau si dia yang duluan nyaman atau kita saling merasa nyaman di waktu yang sama. Biarkan itu menjadi kejutan-kejutan yang tentu gak bisa diprediksi bagaimana alurnya. Sebab, sebaik-baiknya kriteria yang ku-list, sebanyak-banyaknya orang yang datang kemudian pamit pergi, kejutan takdir kasih sayang manusia tidak pernah bisa diduga-duga. Perasaan hanyalah perasaan, bagi Dia Sang Pemilik Perasaan, tentunya mudah untuk membolak-balikkan hati ciptaan-Nya. Dan semoga, hati yang dibolak-balikkan itu menemukan jalannya sendiri untuk saling menyapa di waktu yang tepat dengan limpahan kasih sayang dan rahmat-Nya yang tidak ada habisnya. 

Selesai. 

Perbincangan soal asmara selesai sampai di situ. Ibu sudah menemukan jawaban dari pertanyaannya, kekepoannya. Kekepoan perihal apakah anak perempuannya menyembunyikan fakta bahwa dia sudah memiliki pasangan atau terang-terangan mengatakan masih sendiri saja. Aku pun sudah menemukan jawaban bahwa ibu mendukung apapun yang akan aku pilih untuk di kehidupanku selanjutnya, untuk memilih mas-a depanku sendiri bagaimana. Rasanya tidak sabar menerka dan menemukan siapa dia. Tapi, sabar-sabarin aja. Masih panjang langkah ke depan. Ini bukan kompetisi. Berbakti dan membahagiakan orang tua hari ini adalah bagian dari menabung kebahagiaan di kemudian hari. Semoga hari itu tiba dengan berjuta-juta bahagia yang tak terkira. 

Agak geli rasanya menulis ini, tapi gak apa lah sesekali. 

Coretan ini diketik dari calonmu yang tidak hanya memberi senyum tipis di wajahmu hari ini, tapi setiap hari (nanti).

(Ditulis sembari mikir proposal skripsweet.) 

-Oktafiyay, Maret 2021.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu dan Saya-Selesai

OK-TO-BERsedih

Bagian Kelam I