Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

OK-TO-BERsihin Hati dan Pikiran

Berkembangnya digitalisasi gak lepas dari yang namanya sosial media. Kalau dulu lagi ngetrend-ngetrendnya facebook. Semua bikin facebook, semua upload di facebook, semua berinteraksi lewat facebook. Setelah agak pudar, tahun 2011-2012'an twitter booming. Mention-mentionan, jawab simsimi di twitter, sampai ngeretweet apapun yg lewat di timeline. Setelah 2 account itu, ada lagi yang namanya ask.fm. Sebuah platform yang khusus untuk seru-seruan dan kepo-kepoan. Apapun bisa ditanya di sana. Bahkan bisa menyembunyikan identitas atau yang dikenal sebagai si "Anonim". Ini lumayan bikin emosi kalau yang ditanya itu soal pribadi, bisa dijadikan media hujat yang parah banget dengan bersembunyi dibalik julukan anonim. Di samping ketiga platform itu, tentunya line juga sebagai pelengkap. Apalagi dilengkapi dengan stiker-stiker lucu nan menggemaskan. Themenya juga yang bikin diri bucin koin banget biar bisa beli tema yang diinginkan. Udah lumayan nih kan aplikasinya? Sekarang ditambah...

OK-TO-BERnostalgia

 "Apa kau memberi kabar bahagia ini padanya pula, Yas?" "Tidak. Aku pikir lebih baik tidak memberi harapan kepada seseorang yang aku tau bahwa aku tidak bisa mempertanggungjawabkan itu."  "Aku pikir kamu akan memberitahunya, aku pikir dia masih spesial di matamu." "Tidak sama sekali. Yang sudah lewat, biarlah lewat. Dia harus tegas untuk melanjutkan perjalanannya. Sedangkan aku juga harus tegas untuk tidak merespon lebih apapun tentang pesannya. Bahkan aku tidak membalasnya."  "Kamu sudah lebih dewasa dari Yas yang kukenal 3 tahun lalu. Kamu berhak bahagia, Yas. Kamu berhak menemukan yang terbaik untukmu nantinya. Biarlah lembaran usang tetap terpajang tanpa ingin kau coba untuk pasang kembali."  "Iya, kamu benar. Ada orang yang tanpa harus jatuh dia sudah bisa meraih apa yang ia inginkan dan butuhkan. Tapi, orang sepertiku, soal perasaan sepertinya perlu jatuh dahulu, terluka, baru bisa melangkah lagi dengan pasti." -Memories...

OK-TO-BERsedih

Jika banyak orang yang berdoa kepada Tuhannya untuk kebaikan salah satu ummat-Nya. Maka begitu pun saya dengan seadanya. Masih saja yang kufavoritkan adalah perihal kabarmu. Masih saja yang kunantikan perihal kebahagiaanmu. Masih saja yang kutunggu perihal kerja kerasmu. Sampai waktu terus berlalu. Kamu jauh melangkah mencari arah. Tahun demi tahun akan menyapa, waktu akan terus melupa tentang kita. Target-target bukan lagi sebuah tujuan utama, yang penting jalan saja lah ya.  Saya tidak tahu mengapa saya masih saja menunggu kabar baik itu datang darimu. Perihal melepas, saya sudah lepaskan secara ikhlas. Seiring berjalannya waktu, potongan-potongan puzzle yang membuat penasaran sudah pelan-pelan ditemukan. Sebuah titik jawaban. Kamu pergi perlahan menuju jalan pulang. Sendirian. Hingga ke sebuah rumah, kemudian bersandar. Kamu begitu nyaman sampai tidak ingin kembali menjelajah perjalanan. Kisah ini belum tamat. Masih tertimbun sebuah rasa penasaran yang teramat. Tapi mengapa kita...

Maaf, Saya Gagal

Hari ini pengumuman itu tiba. Pengumuman yang sebenarnya bisa dibilang menaruh harap besar, iya. Pasrah juga iya. Ternyata sebelum membuka, saya inisiatif mengecek email. Siapa tau email masuk duluan. Saya refresh ulang berkali-kali tapi isinya hanya pengumuman perkuliahan. Rasanya seperti hilang semangat. Berharap keajaiban akan selalu hadir.  Tapi rupanya keajaiban itu tidak hadir. Saya coba download hasil pengumuman. Ia berurutan dari A-Z. Tentu saya berfokus pada huruf O. Oh rupanya, memang nama saya tidak ada. Saya tidak masuk dalam 750 orang yang ingin berkontribusi untuk negeri. Rasanya mood berantakan. Ternyata kegagalan seperti ini ya rasanya. Saya berulang kali mendapat kegagalan dalam kehidupan. Entah itu daftar masuk perkuliahan atau bahkan daftar pengabdian. Rasanya kenapa seperti ini? Kenapa rasanya kali ini begitu kosong.  Pernah gak sih kalian merasa hal ini? Seperti apa sih gagal yang pernah kalian rasa? Begitu menyakitkan gak sih? Semua pertanyaan itu hanya b...

Kamu dan Saya-Selesai

Orang yang merasa berbuat kesalahan, akan berujung pada sebuah persembunyian. Padahal, tau tidak? Jika saya benar-benar merasa baik-baik saja? Tau tidak bahwa saya memang sudah sejauh itu merasa bodo amat dengan semua hal yang berkaitan denganmu. Nyatanya, per hari ini saya tau bahwa perasaan itu tumbuh begitu utuh untukmu. Sedangkan untuk saya sudah jatuh dan runtuh begitu sempurna. Jadi tidak perlu adanya sesuatu yang harus kembali dibangun secara utuh.  Kamu tau tidak? Apa yang kamu sembunyikan itu saya tau. Postingan yg selama ini tersembunyikan. Hehe. Kamu ingat tidak? Bukankah saya pernah berkata bahwa seseorang tidak perlu memberi tau siapa dirinya kepada orang lain. Ia akan mengetahuinya sendiri. Cepat atau lambat. Kamu itu kenapa sih? Udah usang terus saja berusaha untuk dipasang. Apa tidak mau hanya jadi yang terpajang?  Sudahlah, saya ini benar-benar tidak apa-apa. Saya jauh lebih baik-baik saja dari yg kamu kira. Bertahun-tahun bagi saya itu sudah cukup untuk tau s...
Kadang memaafkan dan mendoakan lebih baik. Gaada bandingan apa-apa lagi. Manusia bisa bikin salah, bahkan tidak membuat salah pun bisa terlihat salah. Bukan karena keadaan yg salah. Tapi 'salah satunya' yg terkadang enggan mengalah.

Bagian Kelam II

Lulus SMK dan melanjutkan kuliah, saya dihadapkan kenyataan bahwa saya 'sendiri' berbeda di kelas. Mungkin di sini tempat saya menguatkan keyakinan atas apa yg saya putuskan. Yap, saya memutuskan berhijab. Saya kira saya akan merasa baik-baik saja. Tapi ternyata trauma itu masih ada. Sangat lekat bahkan. Semester pertama menjadikan saya sosok orang yang hanya diam tanpa banyak bicara. Prinsip saat itu, saya tidak akan bicara jika tidak ada yang mengajak bicara. Rupanya luka lama sangat membekas. Ketakutan itu kian hari kian jelas tak ingin lepas. Ternyata selama ini saya tidak benar-benar merasa baik-baik saja. Saya hanya menyembunyikannya sementara. Sedangkan ketika dihadapkan pada situasi yang sama, kondisinya pun akan sama seperti awal mula trauma.  Dua semester saya lewati begitu saja dengan tanpa banyak bicara. Tapi dari sana saya juga banyak mempelajari suatu hal bahwa saya tidak bisa menilai semua orang dengan pandangan yang sama. Mereka berbeda sengan teman-teman SMP ya...

Bagian Kelam I

Hai, apa kamu membaca part ini? Jika ia, mungkin kamu bisa memberi sepatah kata untuk menyemangati setelah ini. Kamu tentu kenal saya kan? Tapi apakah kamu benar-benar mengenal dan akan terus tetap dekat dengan saya setelah ini? Ada keraguan dalam diri untuk memutuskan bercerita. Bagi saya, cerita ini sedikit sensitif. Ya, sensitif di sini mungkin bisa membuatmu dibanjiri emosi. Saya minta maaf lebih dulu jika nantinya kamu merasa begitu. Bagi saya, apa yang ingin saya bagikan berarti sudah melewati berbagai sebuah pemecahan. Sudah berhasil melepaskan diri dari belenggu yang terus mengganggu.  Saya ingin berbagi cerita. Ini mungkin bagian kelam dalam hidup saya. Ini bukan soal cinta saya dengan lawan jenis. Ini soal apa yang sudah saya lewati sejauh ini. Ini bagian dari sebuah keputus-asaan. Bagian dari sebuah ketidakberdayaan. Iya, saya yang putus asa dan tidak berdaya beberapa tahun silam. Lebih tepatnya ketika menduduki bangku SMP. Hehe. Masih bocil kan? Tapi dari sini mental sa...

Sabar Ya

Kemarin berpesan, bulan depan baik-baik saja ya dengan keadaan. Hari ini kembali berpesan, esok berbaiklah dengan keadaan. Semua hal perlu kebaikan rupanya untuk merasakan baik-baik saja.  Semua keinginan berbulan-bulan tertahankan. Semua impian diredamkan. Semuanya di bawah tekanan. Ingin rasanya menyudahi segala keresahan, kegundahan, kebingungan. Lantas jika ada yang bertanya, "Bagaimana kabarmu?" Bisa menjawab dengan lantang, baik-baik saja seperti keadaan sekarang. Sabar ya, ujian jamaah ini akan menemui kesudahan. Kemudian kita akan merayakan dengan kesenangan dan ketenangan. Bukankah itu yang memang kita idam-idamkan sampai sekarang?  Semoga ya, semoga Tuhan mengabulkan.