Pesan November Lalu
"Bahwa puncak keikhlasan adalah ketika kamu tidak lagi mengungkit kepedihan yang terjadi, namun memaafkan dan saling memperbaiki diri. Puncak kebijakan adalah ketika kamu mendengar hal buruk tentangmu, namun tetap kau doakan kebajikan bagi saudaramu," kata Zeyn.
"Doa
buruk tidak perlu dibalas buruk. Sebab apa yang kamu doakan akan kamu dapatkan.
Semakin banyak kebaikan doa, semakin banyak kebaikan datang padamu pula," balas Yas.
"Yas, sepertinya kamu memang sudah menjadi sesosok perempuan yang dewasa ya. Setelah luka yang kamu rasa. Kamu sadar bahwa melupakan
bukanlah cara terbaik dalam hal menghapuskan segala memori pahit yang ada. Sebab,
semakin kamu berusaha melupakan, maka ia akan semakin terkenang."
Yas hanya tersenyum dan menunduk. Ia tidak tahu apakah dirinya memang benar-benar sudah ada di puncak itu? Atau sekarang ia hanya terus berusaha menutupi dan membentengi diri agar luka-luka itu tidak kembali terbuka. Baginya yang terpenting saat ini adalah ia paham, mengikhlaskan
adalah cara terbaik. Namun, perlu waktu dan pembuktian. Sebab, ikhlas bukan
hanya melalui lisan tapi dalam tindakan. Ikhlas itu ketika dirinya sudah berhenti
mencari-cari. Namun
jika masih sembunyi-sembunyi mencari tahu perihal dia, ia perlu tahu bahwa ikhlasnya belum 'ikhlas'.
***
Setiap yang tertulis dan terucap hanyalah kiasan kata belaka. Melihat realita akan memberikan fakta dengan kenyataan yang ada. Sebab, khayalan adalah bunga tidur yang senantiasa hanya menghibur. Meninggalkan jejak bahagia sesaat lalu merasa tertinggalkan dalam sekejap. Memang faktanya begitu, sanggup menerima dan sanggup mengikhlaskan. Menerima bukan hal yang mudah sebab kamu perlu mempertimbangkan beberapa hal yang bisa saja sudah kaku begitu adanya. Tidak dapat berubah bagaimanapun kondisinya. Mencoba membuka hati dan pikiran, menyelaraskan kedua hal yang berbeda untuk disatukan.
Mengikhlaskan akan lebih sulit dirasa. Mengorbankan hal yang sudah lama ditanam dan lama ada. Membiarkannya lepas tanpa ada lagi yang disebut batas.
Mereka memang begitu adanya, mempermainkan waktu yang pernah ada. Mendatangkan kemudian memulangkan. Menjanjikan kemudian melupakan.
"Aku sadar, Zeyn. Aku hanya perempuan biasa. Aku menaruh tugas yang besar pada hariku berikutnya. Hmm."
"Yas, jangan memaksa. Waktu akan terus menunggumu benar-benar pulih sempurna,"
"Tapi Zeyn, waktu sudah terlalu banyak memberiku kesempatan untuk melihat semuanya. Anggap saja ini kesempatan terakhirku untuk menyadari bahwa semakin aku menginginkan sesuatu, maka aku harus semakin bisa untuk melepasnya. Ketika ia adalah milikku, ia akan kembali meski hari itu aku memilih pergi. Tapi, kamu tahu kan kenyataannya seperti apa? Haha aku sudah hafal Zeyn. Aku akan terus berucap 'Yas, tidak apa-apa sedikit terluka, kamu bisa. Yas, ayo obati dan lari lagi.' Di saat yang bersamaan aku lupa Zeyn. Orang yang sakit dan terluka butuh istirahat, dan ini waktuku istirahat."
"Aku tidak tahu isi kepalamu apa saja? Istirahatlah. Moga
bagaimanapun menerima dan mengikhlaskan yang telah perlahan kau lalui, dapat benar-benar membuatmu damai untuk pergi. Barang kali jika ini sebuah pilihan, sebut
saja sekali. Kau pilih satu dan Fay satu. Fay menerima, kau mengikhlaskan, Yas."
"Atau sebaliknya?"
"Maksudmu?" tanya Zeyn menaikkan alisnya yang tebal dan rapi.
"Biar Fay yang mengatur atau biar saja sekalian waktu yang kembali menjadi pengatur kita. Sebab sepertinya waktu masih ingin bercanda dengan keadaan yang ada. Tuhan bersamamu, di sana. Doa bersamamu, di sini, Fay." kata Yas lirih.
- Fay & Yas. 2018
Komentar
Posting Komentar