Kamu dan Saya-Selesai

Orang yang merasa berbuat kesalahan, akan berujung pada sebuah persembunyian. Padahal, tau tidak? Jika saya benar-benar merasa baik-baik saja? Tau tidak bahwa saya memang sudah sejauh itu merasa bodo amat dengan semua hal yang berkaitan denganmu. Nyatanya, per hari ini saya tau bahwa perasaan itu tumbuh begitu utuh untukmu. Sedangkan untuk saya sudah jatuh dan runtuh begitu sempurna. Jadi tidak perlu adanya sesuatu yang harus kembali dibangun secara utuh. 

Kamu tau tidak? Apa yang kamu sembunyikan itu saya tau. Postingan yg selama ini tersembunyikan. Hehe. Kamu ingat tidak? Bukankah saya pernah berkata bahwa seseorang tidak perlu memberi tau siapa dirinya kepada orang lain. Ia akan mengetahuinya sendiri. Cepat atau lambat. Kamu itu kenapa sih? Udah usang terus saja berusaha untuk dipasang. Apa tidak mau hanya jadi yang terpajang? 

Sudahlah, saya ini benar-benar tidak apa-apa. Saya jauh lebih baik-baik saja dari yg kamu kira. Bertahun-tahun bagi saya itu sudah cukup untuk tau siapa kamu sebenarnya dan seperti apa. Bertahun-tahun sudah cukup rasanya membiarkanmu pergi dan saya melanjutkan langkah kaki. Untuk apa ingin kembali? Meminta maaf sampai berapa kali? Saya sudah memaafkanmu dari sebelum kamu mengucap itu. Buktinya, saya yang melepaskanmu. Jangan bertingkah seolah-olah ada yang tersakiti di sini. Di sini malah happy. Kamu saja yang mungkin terlalu mengikuti kata hati, sehingga perhatianmu ingin kembali ke masa lalu lagi. Hehe. 

Sudah ya, kisah kita kan sudah berakhir beberapa tahun silam. Kamu yang memulai, saya yang mengakhiri. Kita lengkap kan? Iya. Rupanya saling melengkapi itu tidak selamanya bisa saling menemani. Ia hadir begitu sopan, pergi pun tak lupa mengucap salam. Salam perpisahan untuk yang memang tidak ditakdirkan. Gak perlu menjadi seseorang yang super pahlawan, seolah-olah hadir di tengah kebimbangan. Jadilah kawan sepantasnya saja. Soal kamu punya hubungan dengan siapa saja, bukan urusan saya. Gak perlu disembunyikan hanya pada saya. Gak perlu banget. Karena saya gak memusingkan atau mempedulikan hal itu pula. 

Sudah ya, iya, udah, udah, cukup. Gak perlu penjelasan panjang lebarmu lagi. Udah cukup kok. Udah. Buat apa berargumen untuk memenangkan pembenaran? Apa yang sudah terjadi, dia hanya lembaran. Gak perlu merasa menyakiti saya. Karena sedari awal saja kamu memang sudah tidak memikirkan itu kan? Untuk apa sekarang susah payah memikirkannya? Udah ya, upayanya dibreak saja. Hehe.

Komentar

  1. Seseorang memberitahuku bahwa, menyerah bukan berarti kalah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katakan pada seseorang itu bahwa hatinya begitu besar. Ia paham bahwa soal perasaan tidak bisa selalu disandingkan dengan pertandingan yg mengenal kalah dan menang.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

OK-TO-BERsedih

Bagian Kelam I