OK-TO-BERsedih
Jika banyak orang yang berdoa kepada Tuhannya untuk kebaikan salah satu ummat-Nya. Maka begitu pun saya dengan seadanya. Masih saja yang kufavoritkan adalah perihal kabarmu. Masih saja yang kunantikan perihal kebahagiaanmu. Masih saja yang kutunggu perihal kerja kerasmu. Sampai waktu terus berlalu. Kamu jauh melangkah mencari arah. Tahun demi tahun akan menyapa, waktu akan terus melupa tentang kita. Target-target bukan lagi sebuah tujuan utama, yang penting jalan saja lah ya.
Saya tidak tahu mengapa saya masih saja menunggu kabar baik itu datang darimu. Perihal melepas, saya sudah lepaskan secara ikhlas. Seiring berjalannya waktu, potongan-potongan puzzle yang membuat penasaran sudah pelan-pelan ditemukan. Sebuah titik jawaban. Kamu pergi perlahan menuju jalan pulang. Sendirian. Hingga ke sebuah rumah, kemudian bersandar. Kamu begitu nyaman sampai tidak ingin kembali menjelajah perjalanan. Kisah ini belum tamat. Masih tertimbun sebuah rasa penasaran yang teramat. Tapi mengapa kita membuatnya seolah-olah sudah sekarat?
Rupanya, pilihanmu hanya baik bagimu. Bukan bagiku dan harapku. Memang manusia tidak bisa mengharapkan inginnya ke sesama manusia. Sebab itu hanya menggali luka lebih dalam dan leluasa. Sudah berapa kali saya mengucap selamat tinggal, sampai jumpa di kemudian? Tapi nyatanya yang terjadi hanya selamat tinggal. Jumpa di kemudian hanya fatamorgana. Sebab ada dinding besar yang membatasi kita berdua. Egomu yang selalu bertahan di sana.
Komentar
Posting Komentar