Kita Bukan Hakim Dunia
Ada berbagai hal di dunia ini yang selalu
membuat hidup menjadi lebih berwarna. Bahkan yang memberikan duka pun juga
termasuk memberi warna, yaitu hitam, kelam.
Banyak sekali perspektif
mengenai penilaian hidup seseorang. Ada yang menilai hidup itu perlu perjuangan,
hidup itu perlu gebrakan, hidup itu harus imbang sampai ada spekulasi bahwa
hidup itu tinggal dijalani sesuai arusnya saja. Banyak sekali pandangan orang
mengenai memaknai kehidupan. Gak heran dari berbedanya cara pandang juga
memunculkan beda argumen. Skala penilaian orang pun jadi lebih bervariatif. Ada
sebagian orang yang memiliki sudut pandang untuk melihat secara visual, secara
luaran, secara penampilan. Ketika dia lihat orang itu (maaf) kucel, kusam,
berantakan, urakan. “Ctakk!” mereka akan mengecap mereka sebagai orang yang
buruk. Padahal banyak dari mereka itu belum kenal. Begitu pun sebaliknya, kalau
penampilannya good looking, rapi, glowing ala-ala, pokok perfect
deh. Mereka akan menilai itu sebagai orang yang baik. Hal tersebut tidak bisa
disalahkan. Dalam artian, mungkin mereka memiliki pandangan bahwa orang yang
merawat diri itu adalah orang yang sangat berbudi pekerti, orang yang pada
dirinya saja peduli apalagi bagaimana dengan orang lain? Tentu akan peduli juga
kan? Yaps. Begitulah keberagaman kita dalam menilai.
Tapi, hal tersebut bukan
menjadi satu patokan inti untuk mengenal dan mengetahui karakter seseorang secara
lebih mendalam. Sama kayak misalkan kita beli buah srikaya, kalau kita lihat
yang mulus banget tanpa ada bercak hitam di kulitnya apakah itu menjamin bahwa
buah itu matang dan bagus? Belum tentu. Justru kebalikannya, kalau sudah ada
bercak hitam berarti buahnya sudah matang. Yang belum ada ya masih mentah belum
bisa dikonsumsi. Sesederhana itu. Kita perlu mengenal dan memahami orang itu
bukan hanya tampilan luaran saja, tapi juga bagaimana habit mereka, bagaimana
pola pikir mereka dengan kita ajak komunikasi. Bagaimana cara mereka memecahkan
masalah, bagaimana kontrol emosi mereka? Bagus? Stabil? Atau justru kacau kalau
lagi emosi? Bagaimana tingkat kesabaran mereka dan bagimana mereka menjalin
komunikasi dengan orang sekitar kita. Tata bahasa dan tata perilaku mereka juga
menjadi salah satu substantif penilaian penting.
Selain itu, sering gak sih
kita itu disandingkan dengan pertanyaan “Dia itu gimana sih masa lalunya? Backgroundnya
gimana sih?” atau pertanyaan lainnya yang sejenis. Sebenarnya ini kembali lagi
ke pandangan masing-masing sih ya. Mungkin bagi kebanyakan orang, hal itu
adalah “The most thing important” sebagai tolak ukur bagaimana kita
menilai dia. Tapi jangan terlalu terpaku. Sebenarnya kita tidak bisa menilai
seseorang dengan ‘sangat’ objektif. Yang bisa menilai itu semua ya mereka yang
tau bagaimana proses dalam kehidupan dan diri mereka masing-masing.
Nih aku kasih contoh nyata.
Aku punya teman, dia itu bisa dibilang masa lalunya lumayan kelam, dia itu
ngerokok, kenal dunia malam, minum, dunianya terlampau bebas waktu remaja, ya
pokok hal buruk itu pernah dilakuin. Tapi, menginjak usia 23 tahun dia kerja,
dia mulai merasakan gimana kehidupan kerja. Dia itu selalu punya pikiran bahwa
kita gak bisa mendiskriminasikan seseorang cuma dari luarannya doang. Sama
kayak kita gak bisa mengagungkan seseorang cuma karena tampilan luarnya doang.
Sekarang, pelan-pelan dia ninggalin yang namanya rokok, dia bilang kalau rokok
itu emang gak sehat untuk tubuh. Dia itu ngerokok ya karena coba-coba, eh kok
malah ketagihan jadi kebiasaan. Karena dia udah tau gimana impactnya
nanti, dia coba tuh pelan-pelan untuk ninggalin rokok. Duit yang seharusnya
dibeliin rokok itu dia tabung, waktu duitnya udah ketabung dia pakek untuk hal
yang lebih berfaedah kayak dia beliin barang yang dia mau, jalan-jalan liburan
atau tabung untuk masa depan (hiyaaak). Kalau dia bilang sih prosesnya ya gak
semudah itu, tapi harus!!! Akhirnya sekarang beneran udah berhenti (doain ya
biar gak kepengen nyoba lagi hehe). Lanjutt….
Terus karena dia juga udah
dewasa, dia berpikir bahwa dia gak boleh jadi orang yang buruk di masa depan.
Semua orang tentu memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik kan? Semuanya
butuh proses. Dia pelan-pelan untuk ngelakuin hal yang lebih positif. Sampai
akhirnya singkat cerita ya dia jadi orang yang lebih dewasa dan lebih baik dari
masa lalunya. Kalau soal omongan orang tentang sisi negatifnya dia sih udah
sering banget aku dengar. Kayak malah udah kebal dengar desas-desus dia itu
gini-gitu. Kalau sekarang, aku yang udah sedikit tau tentang perjalanan hidup
dia sampek di titik ini dan tau kalau dia udah ngelakuin hal yang memang
seharusnya dilakuin, apa pantas aku bilang bahwa dia itu sangat buruk untuk
jadi temenku? Atau kasarnya kayak orang-orang bilang “Awas loh nanti kamu malah
terjerumus sama negatifnya dia!” Apa itu pantas? Apa orang yang sudah berusaha
untuk menjadi lebih baik setelah segala keburukan yang pernah dia lakuin, dia
sesalin dan dia perbaiki pantas mendapat reward yang lebih buruk lagi? Enggak
kan?! Bukankah kita seharusnya merangkul mereka untuk tetap terus bertahan menjadi
dan berusaha untuk jadi lebih baik lagi?
Soal bagaimana masa lalu dia,
bagaimana background dia, itu jadi faktor alasan kita untuk sebuah
pertanyaan “Apakah kita bisa menerima itu semua?” Kita itu bukan hakim dunia
yang lebih baik, lebih tau segalanya atau lebih adil. Gak ada yang tau isi hati
seseorang, gak ada yang tahu bagimana masa depan seseorang, nasib seseorang.
Kalau memang kita sadar bahwa kita bukan hakim yang berhak menghakimi, mengapa
kita harus lakukan itu? Setiap orang pasti memiliki kebaikan dan keburukan.
Hanya takarannya yang tidak pernah bisa kita takar secara imbang. Soal
bagaimana pandangan kita ke depannya, kita harus melihat segala hal dari 2
sisi. Bukan hanya satu sisi. Ketika kita melihat keburukan seseorang, kita juga
harus dapat melihat bagaimana kebaikan seseorang. Kita tidak boleh buta sebelah
mata. Setiap orang berhak berdiri pada fase yang paling puncak, yakni ‘Fase
Memperbaiki Diri Menjadi Lebih Baik’. Kita tidak pernah tau apa yang sudah
mereka hadapi untuk mencapai fase tersebut, bagaimana proses mereka untuk
berusaha dikenal secara baik di mata masyarakat. Bukan suatu larangan memiliki
pandangan, tapi berusaha memandang seseorang tidak hanya dari satu pandanglah
yang paling bijaksana. Selain itu, merekalah yang justru memberi warna dalam
kehidupan kita. Sehingga kita tidak melihat dunia dengan satu warna saja, tapi
berbagai warna. Jadilah orang yang berpikiran dan berwawasan luas yay! Don’t
judge someone by its cover! :)
Komentar
Posting Komentar