Pasrah dan Berserah
Kenapa
ya ketika kita sudah merelakan, justru ia memberi arti sebuah kedatangan?
Ketika kita sudah merasakan kehilangan, jutsru ia memberi arti sebuah
kehadiran? Ngerasain juga gak sih?
Kalau dibilang bahwa hidup itu gak perlu banyak pertanyaan. Aku setuju. Memang hidup itu bukan soal pertanyaan yang harus ada jawaban, tapi soal bagaimana menjalankan. Aku pernah berada di satu titik ketika aku benar-benar pasrah, ketika aku udah merasa bahwa aku menyerah, justru Tuhan mendekatkan apa yang dulunya aku inginkan. Rasanya kayak “Wah! Seriusan?!” Kayak gak percaya sama apa yang Tuhan kasih. Bikin hati berasa bahagia banget. Sama kayak aku pernah nulis di sebuah kertas, dulu banget pas awal masuk kuliah. Aku pernah dengar kalau kita menginginkan sesuatu, dekati yang Maha Memiliki Segalanya. Rabbmu. Niatkan segalanya hanya atas nama dia. Hanya untuk dan demi Dia. Bukan memaksakan keadaan untuk menyesuaikan apa yang kamu inginkan.
Nah
waktu itu, aku nulis di kertas, list yang harus terwujud, beserta tahunnya.
Dulu, aku masuk kuliah bukan karena aku ingin banget di sana. Aku masuk karena
sedikit keterpaksaan (Ya Tuhan maap L)
karena itu aku mau buktikan apa benar kalau aku bisa wujudin apa yang aku
inginkan meski bukan di tempat yang aku inginkan?
Aku
tulis tuh banyak banget. Sambil di atasnya aku isiin tulisan “Bismillah. Allah
Selalu Bersamamu!” tiap hari aku shalawatin. Terus kertasnya aku sembunyiin
dari semua orang dulu. Termasuk dari keluargaku, dari orang rumah. Sampek
akhirnya karena detailnya aku nyimpen rahasia itu, aku lupa naruh di mana -_-
Tamat sudah semuanya. Gitu pikirku. Habis sudah semuanya, hilang sudah
harapanku. Tapi gak berhenti sampai di situ, aku inget apa yang aku tulis dan
aku shalawatin itu. Aku bilang “Kalau memang ini yang terbaik, mungkin secara
general ini hal yang tidak mungkin. Tapi aku percaya, Engkau Maha Mendengar,
Maha Mengetahui, Maha Baik dan Maha Mengabulkan.”
Nah,
hari demi hari udah terlewati, beberapa yang aku tulis itu tanpa sadar
terwujud. Meskipun awalnya memang selalu kayak ngerasa lelah dan pasrah. Saat
itu juga semesta mulai bekerja. Aku pernah nulis kalau aku pingin dapet
beasiswa PPA di tahun 2018. Di tahun 2018 bulan April waktu ada pembukaan
beasiswa, aku daftar. Pas udah menuhin segala persyaratan apa aku lolos gitu aja?
Terkabul gitu aja dengan mudahnya? Enggak!!! Aku gak lolos. Hehe. Sakit sih pas
lihat pengumuman aku gagal. Aku gak lolos. Sedih iya, karena merasa “Yah,
keinginanku harus kukubur” sampai akhirnya aku bilang ke diri sendiri “Belum
rezekimu. Sabar ya!” Temen-temen aku banyak yang nanya dan ngira kalau aku
bakal dapet. Karena desas-desusnya itu pakek nilai IPK sama piagam. Kating juga
banyak yang gak nyangka. Aku cuma bisa senyum sambil bilang “Gapapa, belum
rezeki. Nanti dicoba lagi.” Sampai akhirnya ya aku benar-benar lupa sama
beasiswa itu. Aku pasrah dan percaya bahwa ada hal mengejutkan setelahnya.
Udah jalan beberapa bulan sampai
menuju akhir tahun 2018, tepatnya bulan November 2018 tiba-tiba aku dapet info
dari kortiku kalau aku dipanggil sama Pak Sekjur ke ruangan. Hari itu aku
sakit. Jadi ya gak masuk kuliah. Aku chat Pak Sekjur. Dulu aku pikir aku bikin
masalah kalik ya atau aku ketahuan kalau ngelanggar aturan (karena aku kadang
gamakek dasi meskipun bawa, kututupin kerudung L).
Udah takut banget dipanggil, karena di kelas cuma aku yang dipanggil. Terus ke
ruangan bapaknya. Aku diem dan nanya ada apa? Terus bapaknya bawa berkas agak
tebal gitu dan dia bilang “Jadi gini, dik Okta. Dari pusat itu ada kelebihan
dana. Itu gak bisa dialokasikan ke selain yang diminta. Jadi, setelah saya
rekap ternyata dik Okta ini mencukupi untuk memenuhi syarat untuk lolos nerima
kuota tambahan beasiswa PPA. Penuhi berkasnya, nanti hari senin setor ke BAAK.
Saya sudah buatkan surat pengajuan, tinggal di ttd’in. Gimana?”. Yashh!!!
Rasanya percaya gak percaya, aku diem bentar. Terus aku jawab “Baik pak, akan
saya penuhi berkasnya.”
Pas udah aku setor berkasnya,
seminggu kemudian beasiswaku cair. Kukira bakal sama kayak temen-temenku yang
dapet beasiswa ini. Jadi kalau dapet beasiswa, alurnya pencairan itu setiap
semester cair setengah-setengah, jadi ada dua kali tahap pencairan. Tapi aku
beda, aku hari itu cair semua. Aku bersyukur sekali. Terus, tahun depannya
tepatnya tahun 2019 aku daftar lagi. Ya sama, aku daftar dan berserah karena
aku kira aku gak lolos kayak tahun lalu, eh Tuhan berkata lain. Aku lolos lagi,
padahal baru 6 bulan lalu dapet beasiswa yang sama. Kali ini tahapanku
mengikuti tahapan prosedur pencairan dana pada umumnya yaitu 2 tahap dan aku
dengar sih tahun ini gak ada yang namanya kuota tambahan lagi karena dananya
udah dialokasiin semua. Alhamdulillah gak nyangka ya! I’m lucky!
Mulai dari sana aku belajar banyak
hal. Bahwa Tuhan itu selalu mendengar apa yang kita minta. Bahkan, tanpa kita
ucap, cukup di dalam hati, Tuhan selalu mengetahui. Mungkin memang waktunya gak
sesuai dengan yang kita rancang atau meleset sedikit. Tapi di balik itu semua,
ada hal mengejutkan yang patut kita syukuri. Ditambah lagi, jangan terlalu
berharap pada yang semu. Berharap ya ke Penciptanya. Karena ketika kita
berharap akan sesuatu baik barang, pencapaian maupun seseorang sekalipun, kita
akan merasakan perihnya kekecewaan atas apa yang tidak kita dapatkan. Tapi, pas
udah kita lepas, berserah, pasrah, “Boom!” Tuhan memberikan dengan cara yang
lebih baik dan mengejutkan.
Komentar
Posting Komentar