Orang yang merasa berbuat kesalahan, akan berujung pada sebuah persembunyian. Padahal, tau tidak? Jika saya benar-benar merasa baik-baik saja? Tau tidak bahwa saya memang sudah sejauh itu merasa bodo amat dengan semua hal yang berkaitan denganmu. Nyatanya, per hari ini saya tau bahwa perasaan itu tumbuh begitu utuh untukmu. Sedangkan untuk saya sudah jatuh dan runtuh begitu sempurna. Jadi tidak perlu adanya sesuatu yang harus kembali dibangun secara utuh. Kamu tau tidak? Apa yang kamu sembunyikan itu saya tau. Postingan yg selama ini tersembunyikan. Hehe. Kamu ingat tidak? Bukankah saya pernah berkata bahwa seseorang tidak perlu memberi tau siapa dirinya kepada orang lain. Ia akan mengetahuinya sendiri. Cepat atau lambat. Kamu itu kenapa sih? Udah usang terus saja berusaha untuk dipasang. Apa tidak mau hanya jadi yang terpajang? Sudahlah, saya ini benar-benar tidak apa-apa. Saya jauh lebih baik-baik saja dari yg kamu kira. Bertahun-tahun bagi saya itu sudah cukup untuk tau s...
Jika banyak orang yang berdoa kepada Tuhannya untuk kebaikan salah satu ummat-Nya. Maka begitu pun saya dengan seadanya. Masih saja yang kufavoritkan adalah perihal kabarmu. Masih saja yang kunantikan perihal kebahagiaanmu. Masih saja yang kutunggu perihal kerja kerasmu. Sampai waktu terus berlalu. Kamu jauh melangkah mencari arah. Tahun demi tahun akan menyapa, waktu akan terus melupa tentang kita. Target-target bukan lagi sebuah tujuan utama, yang penting jalan saja lah ya. Saya tidak tahu mengapa saya masih saja menunggu kabar baik itu datang darimu. Perihal melepas, saya sudah lepaskan secara ikhlas. Seiring berjalannya waktu, potongan-potongan puzzle yang membuat penasaran sudah pelan-pelan ditemukan. Sebuah titik jawaban. Kamu pergi perlahan menuju jalan pulang. Sendirian. Hingga ke sebuah rumah, kemudian bersandar. Kamu begitu nyaman sampai tidak ingin kembali menjelajah perjalanan. Kisah ini belum tamat. Masih tertimbun sebuah rasa penasaran yang teramat. Tapi mengapa kita...
Hai, apa kamu membaca part ini? Jika ia, mungkin kamu bisa memberi sepatah kata untuk menyemangati setelah ini. Kamu tentu kenal saya kan? Tapi apakah kamu benar-benar mengenal dan akan terus tetap dekat dengan saya setelah ini? Ada keraguan dalam diri untuk memutuskan bercerita. Bagi saya, cerita ini sedikit sensitif. Ya, sensitif di sini mungkin bisa membuatmu dibanjiri emosi. Saya minta maaf lebih dulu jika nantinya kamu merasa begitu. Bagi saya, apa yang ingin saya bagikan berarti sudah melewati berbagai sebuah pemecahan. Sudah berhasil melepaskan diri dari belenggu yang terus mengganggu. Saya ingin berbagi cerita. Ini mungkin bagian kelam dalam hidup saya. Ini bukan soal cinta saya dengan lawan jenis. Ini soal apa yang sudah saya lewati sejauh ini. Ini bagian dari sebuah keputus-asaan. Bagian dari sebuah ketidakberdayaan. Iya, saya yang putus asa dan tidak berdaya beberapa tahun silam. Lebih tepatnya ketika menduduki bangku SMP. Hehe. Masih bocil kan? Tapi dari sini mental sa...
Komentar
Posting Komentar