Teka-Teki Hati
Kalau bicara soal hati itu bakalan panjang sekali. Soal hati siapa yang tau? Hari ini bisa suka, besok bisa aja biasa aja. Keesokan harinya bilang kangen, terus kependam sampai akhirnya ya tidak tersampaikan. Kalau bicara soal pengalaman, ini mah udah bukan lagi hal yang baru. Bedanya hanya pada setiap rincian kisahnya yang selalu memberi kisah baru. Entah itu haru biru atau haru pilu.
Pernah ada yang bertanya bagaimana soal perasaan saya? Bagaimana perihal luka-luka yang sudah berhasil diobati atau memang nyatanya hanya alibi untuk menutup luka itu terbuka kembali. Ya, itu kembali ke diri saya lagi. Saya sempat berpikir bahwa mungkin seseorang akan terus mencari dan mencari sampai dia itu lelah dengan pencariannya sendiri, bukan karena tidak menemukan yang dicari. Tapi dia memilih untuk menyudahi. Apa sih yang dikejar di dunia ini? Apa yang dicari selama ini?
Kalau cari yang tampan, banyak. Cari yang tajir melipir, cari aja yang udah stay dengan istilah 'tetap' juga lumayan. Cari yang pandai? Sarjana baik S1, S2, S3 pun ada. Lalu mencari yang bagaimana lagi?
Semua itu proses. Ada seseorang yang prosesnya cepat sekali untuk menjatuhkan hati dan memilih hidup sehidup-semati. Ada yang biasa saja, sewajarnya pada umumnya. Ada pula yang prosesnya lambat perlahan namun pasti. Setiap skala seseorang menemukan dan mencari itu gak bisa digeneralkan. Target boleh saja, tapi kalau sudah pada waktunya dipertemukan, apa harus menunggu terus? Apa tidak berpikir kalau begitu justru saling menyakiti?
Rasanya, saya juga perlu tegas ke diri sendiri. Saya tegas dalam memilih, tapi lagi-lagi ketika memilih yang sudah saya rasa pas, waktu memberi isyarat untuk "SABAR SEBENTAR" agar semuanya kelar. Tahap menunggu itu tahap yang benar-benar bikin diri diambang ragu. Stuck gatau harus melangkah mundur atau maju. Pergi untuk memperjuangkan atau pergi untuk meninggalkan. Fase ini bakal kerasa banget di umur yang saya percaya sekitar 20'an ke atas. Udah bukan waktunya lagi menggantungkan hubungan kayak jemuran yang lepek gak diangkat-angkat. Kalau pun digantung ya harus siap dengan segala konsekuensi. Dulu saya sempat menggantungkan orang, beberapa tahun lalu. Saya tau dia menyukai saya, jelas dong terlihat dari gestur wajah atau sikapnya atau bahkan chatnya. Bukan soal nanya udah makan? lagi ngapain? BUKAN. Nyambung aja kalau chat, dia sambungin sih lebih tepatnya. Jahatnya, saya membalasnya 5 hari/seminggu kemudian karena saya lupa.
Jujur, saya benar-benar lupa atau gak sengaja saya baca tapi lagi-lagi lupa membalas. Sampai akhirnya dia menyerah dan bilang ke saya "Kalau saya cuma main-main gak mungkin saya sabar nunggu balasan kamu sampai berhari-hari. Yang jelas-jelas kamu bisa bikin snap. Saya pahami kesibukan kamu. Saya gak spam kamu. Tapi sampai sini saya paham bahwa saya pengecut, gak berani ngungkapin perasaan saya ke kamu. Nunggu kamu dari Malaysia, nahan diri saya. Sampai saya benci diri saya sendiri. Gak pernah saya sebegininya. Tapi saya tau, ini udah cukup. Seenggaknya saya bilang apa yg saya rasakan."
Jawaban saya apa? Saya memang lebih suka mengatakan jujur meskipun sedikit menyakitkan daripada saya berbohong terus-menerus seperti menabung luka. Saya jawab kalau saya sempat menyukai dia, tapi itu dulu, jauh sebelum dia mau jujur. Saya pendam? Jelas. Saya perempuan. Kodratnya perempuan menunggu. Karena satu alasan. Takut untuk mengatakan justru kehilangan. Sampai akhirnya saya bilang ke diri untuk "STOP SAMPAI DI SINI". Itu bagi saya adalah kalimat yang bisa jadi kalimat menakutkan. Karena ketika saya sudah mengucap itu ke diri saya, saya susah untuk kembali. Bagaimanapun caranya sampai saat ini itu masih terjadi. Belum ada yang benar-benar bisa bikin saya kembali ketika saya sudah berucap itu di dalam hati. Saya mengatakan semuanya tapi saya katakan saya tidak bisa untuk terikat karena ya memang saya sudah memutuskan untuk berhenti. Saya memilih untuk tidak mengatakan "Iya" ke dia. Bukan karena dia, tapi karena saya yang sudah seperti membangun benteng saya sendiri. Saya selalu mewanti-wanti kalimat ini tertanamkan dalam diri. Saya takut ketika saya sudah tegas, saya tidak bisa kembali bahkan seingin apapun itu.
Saya pikir, semua memiliki kecewanya masing-masing. Dahsyatnya luka yang dipendam dalam diri masing-masing sampai pada fase puncaknya masing-masing. Seperti: sudah lelah capcipcup memilih dan memilah, sudah lelah menargetkan yang sebenarnya mungkin bisa mengecewakan diri sendiri jika tidak terjadi, sudah lelah dengan opini yang bertebaran sana-sini atau sudah lelah lainnya yang bikin diri mengunci hati. Sebenarnya kita butuh apa bila begitu? Kita hanya butuh bicara untuk menceritakan. Kita butuh wadah untuk menampung segala lelah kita. Hingga akhirnya kita sadar bahwa kita adalah dua insan yang sama-sama lelah dengan proporsinya masing-masing tapi kita masih ada 2 pilihan. Untuk terus melanjutkan perjalanan dan petualangan atau untuk memberhentikan segala perjalanan dan menyerah kepad keadaan. Saya yakin, kita bisa untuk terus melanjutkan perjalanan. Jangan lupa untuk istirahat sejenak.
Saya pikir, kita sama. Akan memilih untuk tidak main-main lagi dalam suatu hubungan. Kalau pun harus saling mengenal ya komunikasi. Karena bagi saya setelah bisa mengayomi ya kudu bisa menjaga komunikasi. Urusan hati memang gaada yang bisa memahami dengan mudah. Semoga setelah segala luka dan kecewa yang pernah kita hirup sesaknya, kita tahan perihnya, kita rawat sakitnya akan segera pulih dengan kedatangan dia yang selalu menjaga. Semoga ya! 💕
- Gyr, 2020.
Komentar
Posting Komentar