Sebuah Kehilangan
Ini kisah tentang sebuah kehilangan. Sebentar, tidak tepat rasanya
jika saya sebut ini kehilangan. Karena pada kenyataannya kita tidak benar-benar
memiliki satu sama lain. Saya, memiliki dia di dalam diri saya. Tapi, saya di
dalam diri dia belum tentu begitu adanya. Mungkin, ini menjadi kisah yang
mewarnai tahun ini. Awal tahun yang sangat berwarna. Haha. Bagaimana tidak?
Karena setelah sekian lama, sekian hari, saya kembali dipertemukan dengan
sebuah kisah yang hampir sama pada tahun-tahun lalu. Tapi kali ini, tentunya
lebih dari sebelumnya. Entah bagaimana maksud “lebih” yang saya tuliskan di
sini. Sulit untuk saya ungkapkan, tapi ini benar-benar nyata saya rasakan.
Ada beberapa hal
yang pernah saya ucapkan hanya ke satu orang. Semua orang saya yakini memiliki
rahasia tersendiri yang tidak mudah ia bagi ke banyak orang. Bisa saja dia bagi
tentang A ke si B. Tentang C ke si A, dan sebagainya. Mengapa demikian? Ya karena, semua orang berhak mengatur privasinya masing-masing. Kepada siapa dan
tentang apa yang ingin ia bagikan.
Iya, termasuk saya juga. Saya pernah cerita sesuatu ke seseorang
setelah menonton sebuah film. Saya bercerita bahagia sekali. Kenapa? Karena
waktu saya dipertemukan adalah waktu yang berharga bagi saya. Di sela-sela
kesibukan saya dengan ujian dan dia dengan pekerjaannya. Rasanya menyepakati
kata temu kali ini benar-benar membayar segala kangen saya. Hahaha. Geli
sebenarnya kalau mengingat-ngingat kejadian lucu dan memalukan antara saya
dengan dia. Saya asik sekali bercerita, tapi cerita saya terputus karena kita
berjalan di sebuah ruangan yang sepi. Benar-benar sepi. Saya terfokus dengan
langkah kaki kita.
Saya dengan posisi bercerita dan putus di pertengahan jalan seperti
berpikir “Ah sudahlah! Gaperlu dilanjut. Mungkin dia juga gabegitu
mendengarkan,” iya saya pikir dia juga tidak menggubris cerita saya. Ternyata
pikiran saya keliru. Saat itu karena sepi saya berkata spontan bilang “Jangan
tinggalin saya, tunggu. Takut.” Gitu, kemudian dia memelankan langkah kaki. Kita
berjalan dan setelah dia tau saya sudah lebih membaik, tidak takut karena
spontan saya melepaskan genggaman saya di lengan dia. Dia bertanya "Terus?
Tadi gimana ceritanya?"
Biar saya jelaskan. Saya bercerita satu hal mengenai sebuah kelemahan. Ingat sekali, di basement mall. Hari
itu saya menceritakan tentang hidup saya, tentang bagaimana lingkungan sekitar
dan orang-orang terdekat saya. Sesekali dia memandangi saya.
Ketakutan saya muncul, saya takut ketika dia mengetahui itu, saya
ditinggalkan ketika keadaan selemah itu. Iya, saya lagi-lagi spontan sepanjang
jalan genggam lengan dia. Hahaha seperti kalimat spontan yang saya ucapkan.
Iya, saya takut ditinggal. Hari itu sudah malam juga, cuma ada kita. Takut
kenapa-kenapa? Iya. Benar-benar seperti hanya kita berdua. Rasanya saya gak ingin
kembali melanjutkan hari esok. Karena hari ini saya merasa lebih baik setelah
beberapa hari menjadi orang yang tidak baik-baik saja.
Di jalan, sesekali dia
memandangi saya. Sesekali saya tersenyum. Sesekali saya pura-pura tidak
melihat. Jujur, itu pertama bagi saya.
Saya bisa merasakan bagaimana diri saya seakan-akan kembali pada
cerita yang sebenarnya ini pernah dirasakan. Dirasakan untuk merasa takut dengan
perasaan sendiri. Takut ketika saya cerita, justru saya terjebak oleh cerita yang
saya bagi ke dia. Saya takut juga dia tidak suka. Ya semua campur aduk.
Setelah itu kita pulang. Dia mengantarkan saya. Yaps saya minta
diantarkan beli makanan. Untuk sarapan. Begitu alasan saya, hari itu seperti
berpuasa, saya belum makan dari siang. Dia sudah bilang ketika berangkat
"Udah makan? Nanti lapar loh" wkwk jelas lapar. Mau minta makan
bareng ketika pulang, namun dia sesekali melihat jam dan beberapa warung/kedai
pinggir jalan yang buka. Seperti ingin makan juga, tapi waktu tidak
memungkinkan (mungkin begitu pikirnya). Akhirnya saya gak berani minta ditemani makan
malam.
Saya minta diantarkan ke ind*mar*t atau sejenisnya yang buka. Saya
membeli beberapa makanan, saya ambil beberapa saja. Sisanya yang lebih banyak
saya beri ke dia. Saya mencari vitamin juga, tapi ternyata di toko itu tidak ada.
Tau yang di pikiran saya? Saya khawatir dia sakit gara-gara saya. Tidak tega.
Hari itu, saya ingat sekali setiap menit yang berlalu. Ingin
diberhentikan sejenak. Ingin bertanya perihal bagaimana kelanjutan setelah ini?
Tapi saya mengurungkan. Karena saya takut jawabannya justru memberi jarak yang
tidak bisa kita dekatkan bahkan sebagai seorang teman. Takut menjadi asing
setelah menjadi dua orang yang saling.
Ini yang saya cipta, apakah ini yang harus saya binasakan? Mungkin
jawabannya iya. Karena saya paham bahwa apapun yang diyakini dan ciptakan
sendiri, tidak bisa dijadikan pondasi bahwa saya bisa mengubah rasa orang lain.
Perlahan-lahan. Saya masih tidak percaya bahwa saya akan menjadi lemah ketika
saya menceritakan sebuah kelemahan.
Ketakutan saya hampir mendekati kata sempurna untuk menghancurkan
segala keberanian diri bercerita. Iya, tidak apa-apa jika ini dibaca olehnya.
Karena mungkin itu adalah kemustahilan. Saya menceritakan ini di tweet twitter
saya pula pada sebuah thread. Mengapa saya katakan kemungkinan itu adalah
kemustahilan? Karena kita tidak berteman di twitter. Lebih tepatnya, mungkin
dia memberi spasi kepada saya sehingga saya bukanlah temannya di twitter.
Hehe. Tidak apa-apa. Saya menghargai, menyadari. Saya seperti memiliki
tanggung jawab pribadi untuknya. Saya ingin dia menjadi lebih baik untuk dirinya.
Menjadi orang yang selalu bangkit dalam kecewanya. Selalu memiliki tujuan dalam
setiap pencapaiannya.
Jika ia terkubur dalam kecewanya yang menahun, saya ingin dia tidak
semakin terkubur makin dalam. Saya ingin dia mengetahui bahwa dirinya adalah yang
terbaik dengan versinya. Saya ingin tidak ada kekhawatiran dalam dirinya untuk
menemukan yang terbaik untuk hidupnya. Kalau bicara soal ketegaan. Saya selalu
tidak tega jika ada hal-hal buruk yang saya dengar tentang dia. Bagaimanapun
kenyataannya. Saya ini memang keras kepala. Berpikir bahwa tidak apa-apa jika yang
saya cipta tidak dicipta pula olehnya.
Hey, sedari awal juga saya yakin bahwa hanya saya yang yakin. Hehe.
Ini biarkan saya yang menyelesaikan segala ketakutan yang ada dalam diri saya. Ketika
kecemasan saya perihal dia telah usai dan saya menemukan dirinya dalam wujud
yang lebih menemukan arah, di situ saya akan berhenti.
Berhenti atas apapun yang pernah saya cipta sendiri. Bahwa semuanya
akan kembali seperti sedia kala lagi. Mungkin jika ia membaca ini, saya ingin
mengatakan, “Baik-baik saja, ya. Ingat kewajibanmu, ingat kesehatanmu, jangan lupa atur waktu dan dirimu sebaik mungkin. Bukankah
kamu yang pernah bilang untuk tidak sering begadang? Karena kasihan jika sukses
tapi sakit-sakitan. Kamu berhak menjadi lebih baik, semesta berhak menjadi
bagian dari proses menjadi lebih baikmu,” ya segitu saja dan saya masih berhak
untuk mendoakan tentangmu. Karena kamu salah satu ummat-Nya yang mungkin saja
kita tertulis untuk dipertemukan meski tidak 'saling' mendoakan.
Biarkan ini menjadi kisah 'mengikhlaskan' selanjutnya yang harus
saya jalani. Kamu bukanlah seseorang yang hilang dalam hidup saya, kamu hadir,
untuk absen dan itu cukup.
Terima kasih, telah menyediakan telinga dan mata yang memperhatikan
dengan saksama. Setelah ini, semoga Tuhan mengabulkan permintaanmu yang pernah
kamu ucapkan ke saya dulu. Saya akan meng-aamiinkan setiap pengharapan yang
kamu ucapkan.
Kamu berhak baik-baik saja, kamu berhak meneruskan segala
pencapaian yang harus terkejar.
Semoga masih bisa menyapa, dalam doa.
Kemudian, teman dekat yang mengetahui kisah ini membalas tweet saya
dengan “Dan kamu pun berhak untuk hal yg sama.” Saya tau, dia ingin saya juga
merasa baik-baik saja. Beberapa waktu saya bisa menjadi seseorang yang
melupakan diri saya demi orang lain, demi kebahagiaan orang lain, demi ke-‘baik-baik
saja’an orang lain. Iya, saya akan baik-baik saja setelah ini. Lebih tepatnya
saya biasakan untuk hal itu. Perihal bagaimana prosesnya, bagaimana hasilnya,
biar saya yang akan coba. Saya tau, soal keputusan yang saya ambil, termasuk
ketika saya menyimpulkan rasa ini. Bukankah setiap orang harus siap menghadapi
konsekuensi atas apa yang ia pilih? Dan ketika ia sudah mendapatkan konsekuensi
itu, baru dia bisa bernapas lebih leluasa. Ingat ya, kamu sudah ada dalam diri
saya untuk memberi warna. Bagaimana hasil lukisannya biarkan waktu yang
menjawabnya.
Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar