Postingan

Semoga Bahagia Hingga Nanti

    Akan selalu ada harapan. Akan selalu ada kebaikan. Akan selalu ada keajaiban. Akan selalu ada segala hal baik berdatangan. Akan selalu ada bait-bait doa berbaris pada setiap harinya. Entah dari A. Entah dari B. Entah dari Z. Entah dari S. Entah dari T. Entah dari X. Akan selalu ada dan begitu adanya.      Selamat menjalankan kebaikan, selamat menanam kebaikan. Selamat memanen kebaikan, selamat menyebarkan kebaikan.      Semuanya akan menjadi hal terbaik yang gak pernah diduga-duga. Semangat yaa! Harimu pasti dan akan selalu ada.      Kebaikan akan selalu menghampiri. Semoga bahagia hingga nanti. -Oktafia R. A'20-

Besok Pasti Bahagia

    Mimpi-mimpi itu berjatuhan. Bukan sebab kita, bukan pula salah Tuhan. Tidak ada kesalahan atas apapun yang telah terlewatkan. Tetap tenang. Bukankah kita semua percaya Tuhan tidak pernah tidur? Tidak lelah mencintai ummat-Nya. Tetap tenang. Waktu akan tiba membawa kabar bahagia. Bahkan tidak pernah kita duga. Kebahagiaan datang, kita semua tenang. Kabar baik akan selalu ada. Kabar baik akan tiba dengan cara yang baik pula. Semesta menjanjikan segala-Nya.      Semangat yaa!  Sabar sebentar.  Setelah ini kita bertemu. Setelah ini kita bicara lagi. Setelah ini kita makan bersama lagi. Setelah ini kita membawa kabar baik masing-masing. Setelah ini kita bahagia dan akan selalu begitu adanya. Natural. Lugu. Lucu. Kemudian kita tertawa, lagi-lagi karena bahagia. Kalau pun harus menangis, tangis itu adalah tanda haru bahagia. Semangat yaa! Tersenyum yaa. Besok pasti bahagia. -Oktafia R. A'20-

Dari Sini

    Dari sini semuanya seakan abadi. Berdiam diri tanpa hal yang pasti.  Saya tidak pernah tau bagaimana diri ini masih bisa tersenyum dengan berdiri. Berjalan dengan penuh keyakinan. Melangkah dengan kehati-hatian.      Dari sini bayanganmu menari-nari. Mampir kemudian pergi. Menitipkan semesta yang harus terjaga. Semesta cinta yang harus terawat setiap harinya. Disiram, dipupuk, dan disayang. Semuanya. Ia harus tetap cantik sampai nanti waktunya tiba bertemu si pemberi semesta.  Yang memindahkan rumahnya ke dalam diri saya. Sempat menjadikan saya tempat pulang yang paling nyaman.      Dari sini, kamu kemarin pulang, kemudian hari ini kamu kembali pergi entah ke mana. Sampai di mana langkahmu berjalan?  Dari sini ada semesta dan rumahmu yang temaram. Gelap tanpa kehidupan. Kamu lupa bahwa kamu tidak hanya bisa menyuruhku untuk merawatnya sepanjang masa. Tapi kamu juga harus ada di dalamnya untuk selalu mengawasinya b...

Dari Mana?

  Dari mana semuanya bermula? Dari kata saya? Dari kata kita? Dari mana?  Dari mana semua harus berakhir?  Dari jarak saya?  Dari jarak kita? Dari mana?  Dari mana harus mencari?      Kamu yang aman berdiam di sana. Tersenyum seakan semua oke-oke saja. Membaca ini dengan membaringkan kepalamu di sisi sandaran benda. Bertumpu dengan kepasrahan. Sudahkah kamu tanyakan pada diri?  Sampai mana kamu bawa hubungan ini?  Sampai diperaduan untuk mengucap salam perpisahan atau sampai di penghujung jalan untuk menjalin sebuah ikatan?

Dari Sana

    Dari sana kamu gapernah tau seberapa gigih tekad terus tertindih. Rasanya berhari-hari gapernah paham seberapa keras hati menahan.  Dari sana kamu gapernah tau seperti apa kabar selalu tidak pernah absen semenjak hari itu. Gapernah paham kan seberapa keras pertahanan runtuh begitu saja.     Memang sepantasnya begitu, dari sana kamu seakan kulihat aman sejahtera. Baik tanpa luka. Bahagia dengan senyum merekahmu setiap waktu.     Dari sana kamu gapernah tau ada yang selalu memandang tanpa dipandang. Pernah menjadi yang sayang sampai akhirnya dari sana kamu tetap diam di sana. Tidak berkutik ke mana-mana. Tidak berbuat seperti yang orang kira. Tidak berlagak semena-mena.      Sebab dari sana dirimu ada. Ada untuk tidak kembali pulang kepada semesta.  Mengucap salam tanpa saling menatap mata.

Doa-doa Menerima

Soal menerima adalah jalan yang menjadi pilihan atau terpilih dari sebuah kebuntuan. Menjadi pilihan karena itu adalah bulat sebuah keputusan yang dipertimbangkan. Atau justru itu adalah alternatif dari sebuah kebuntuan. Memunculkan beberapa partikel harapan setelahnya. Setelah menerima akan muncul doa-doa.  Doa-doa yang khidmat dipanjatkan kepada Sang Pemilik Kuasa. Tidak ada yang lebih istimewa dari menerima, lantas memohon yang terbaik menurut-Nya. Sebab manusia mungkin saja memiliki kuasa tapi yang berkuasa atas itu semua tetaplah Dia.  Lantas apakah menerima masih menjadi jalan satu-satunya? Atau justru itu adalah jalan nomor satu dari segalanya?  :)

Rela

Rela pun tidak hanya bisa diucapkan dengan entengnya. Kita bukan hanya melibatkan bibir yang berbicara. Tapi menyinkronkan hati dan logika untuk legowo menerima. Menerima untuk berani melepaskan secara perlahan. Tidak lagi menggenggam yang benar-benar bukan menjadi pilihannya. Bukan prioritasnya.  Rela adalah perkara berlapang dada. Melapangkan segala hal yang sesak dalam dada. Hingga akhirnya benar-benar bisa menerima.