Hidup itu penuh tuntutan ya?

Kata mereka yg merasa terkurung dalam suatu zona. Jika dirasa bahkan hidup sebuah tuntutan, bukankah artinya memang harus melakukan sesuatu dibawah keterpaksaan? Sadar tidak sadar kita selalu berada di posisi bawah. Bawah langit, bawah atasan, bawah aturan, bawah kekuasaan, dan bawah Tuhan. 

Roda kehidupan memang selalu berputar, tapi apakah berputar membuatnya merasa teratas? Merasa bahwa atas yang ia pijaki adalah tempat paling mulia dan tertinggi? Enggak kan?

Rasanya kebebasan itu suatu hal yang fana. Hidup memang dituntut terus menerus tanpa tergerus. Memang kita berhak untuk memilih kebebasan mana yang mau dijalani, tapi apakah itu membuat diri merasa lepas dari belenggu duniawi? Lagi-lagi pertanyaan akan terus bermunculan. Kata seseorang, hidup jangan banyak tanya. Jalani saja. Ya benar, tapi terkecuali jika kita tersesat. Menjalani hal yang tersesat mungkin akan membawa diri pada keadaan yang lebih buruk. Maka, perlu sebuah pertanyaan. 

Tuntutan demi tuntutan itu gak akan pernah ada habisnya. Serius deh! Tapi kita bisa menyiasati sebuah tuntutan menjadi tuntunan. Tuntutan keluarga untuk jadi panutan ketika lebih tua bisa dijadikan tuntunan untuk belajar lebih dewasa. Tuntutan pendidikan untuk menjadi yang terbaik dengan versi masing-masing bisa dijadikan tuntunan untuk siap menghadapi persaingan dunia luar yang liar. Tuntutan sosial untuk bersikap baik kepada semua orang bisa dijadikan tuntunan untuk improve akhlak diri sendiri. Tuntutan kantor untuk menjadi pegawai yang teladan bisa dijadikan tuntunan untuk sebuah kedisiplinan. 

Semua hal yang dituntut bisa dituntun. Semua bisa dijalankan dengan cara yang lebih leluasa tanpa terpaksa di bawah kuasa. Tinggal disesuaikan saja sesuai dengan jatah dan porsinya agar tidak selalu membebani pikiran. Karena setiap orang akan selalu menjadi panutan bukan hanya seorang yang manutan. Buka jendela kehidupan, hirup udara segar yang berdatangan. Jalani kehidupan dengan kebahagiaan. Boleh sedih, boleh terpuruk, boleh tertekan, tapi secuil saja. Sisanya katakan bahwa kita bisa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu dan Saya-Selesai

OK-TO-BERsedih

Bagian Kelam I