No-vember No-partner No-problem

Sudah beranjak menuju dua puluh dua. Lagi-lagi tidak berjalan berdua. Kalau klisenya berkata belum waktunya. Pertanyaan-pertanyaan 'punya siapa?' selalu memenuhi kepala. Tidak di rumah saja, bahkan di luar rumah, di mana saja selalu ada. Padahal baginya sendiri itu biasa saja untuk kali ini. Memang lebih indah jika berdua, tapi kalau belum siap semuanya mau berkata apa? Masih ada sisa waktu yang baginya akan cepat berlalu. Bertahun-tahun mendatang akan tiba masanya memutuskan untuk memulai catatan baru, dengan orang baru, keluarga baru, dan lingkungan baru. Sudahlah, tahun ini No-vember No-partner No-problem. 

..........................

Siang itu, seorang perempuan bertanya pada ibunya, "Bu, kalau nanti kakak sudah dewasa, udah gede, udah bisa bertanggung jawab entah untuk diri sendiri, keluarga atau lainnya, kakak boleh milih siapa yang mau kakak pilih jadi pasangan hidup? Ibu boleh mempertimbangkan tapi tetap kakak yang memutuskan. Boleh gak bu?"

Ibunya tertawa kecil dan berkata, "Memang kakak sudah ada calonnya?"

Ia menjawab, "Udah. Hehe."

Ibu terkejut karena anak perempuannya sama sekali belum pernah menceritakan laki-laki mana yang dekat dengannya selama ini dan berkata, "Loh siapa? Kok gak cerita?"

Ia tertawa kecil lagi dan menjawab, "Iya calonnya memang udah ada. Dah dari dulu malah. Tapi orang atau sosoknya belum tau siapa. Kan Allah yang udah janjiin setiap orang yang ada di muka bumi ini berpasang-pasangan. Jadi, calon ada dong. Cuma belum ketemu aja bu."

Ibu hanya menghela napasnya, seakan-akan ia lega atas jawaban anaknya yang masih ia anggap anak kecil di matanya. Ibu memeluknya dan berkata, "Siapapun calonmu nanti. Ibu udah request sama Allah, biar dia adalah calon yang paling terbaik di antara kandidat maupun orang-orang yg pernah hadir di hidupmu. Baik dunia, baik juga bekal akhiratnya. Kita gak pernah bisa mengukur seberapa tinggi dan berat iman seseorang. Tapi kita bisa tau bagaimana itu semua dari akhlaqnya." 

Request ibu tidak pernah meleset. Setiap apa yang dikatakan selalu menjadi doa-doa yang teduh menemani setiap langkah. 

Yas teringat 2 tahun lalu, ia harus berbesar hati merelakan seseorang yang bahkan sudah mengucap sebuah komitmen. Yas paham bahwa semakin dewasa seseorang, ia harus belajar untuk ikhlas dan memaafkan. Jika 20 tahun yang lalu dia berbicara tentang apa yang ia inginkan dan apa yang ia harapkan. Kali ini ia sudah lebih paham, semuanya bukan cuma soal kemauan diri sendiri. Ini perihal sesuatu yang muncul tanpa diharapkan. Lagi-lagi harus terus untuk dihadapi bukan dihindari. 

Semua berjalan seiring berdetaknya waktu, semua kenangan hanya akan dikenang dalam kening. Bagaimanapun orang memandang, yang menjalani tetaplah diri sendiri. Yas, sudah bukan waktunya untuk main-main lagi perihal perasaan, perihal menentukan calon pasangan. Kesendirian tidak membuatmu begitu kosong dan hampa. Hatimu akan selalu tenang dihiasi ayat-ayat yang begitu menyejukkan. Perasaanmu akan lebih nyaman sebab dikelilingi orang-orang yang begitu baik dan mendamaikan. November ini kamu belajar lagi bahwa waktu itu belum tiba.

Luka-luka yang menganga perlahan tertutup sempurna. Kamu berhak menentukan arah perjalananmu setelah ini, Yas. Semoga imam shalih yang sudah siap untuk menafkahi dunia dan akhiratmu menembungmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu dan Saya-Selesai

OK-TO-BERsedih

Bagian Kelam I