Bagian Kelam II
Lulus SMK dan melanjutkan kuliah, saya dihadapkan kenyataan bahwa saya 'sendiri' berbeda di kelas. Mungkin di sini tempat saya menguatkan keyakinan atas apa yg saya putuskan. Yap, saya memutuskan berhijab. Saya kira saya akan merasa baik-baik saja. Tapi ternyata trauma itu masih ada. Sangat lekat bahkan. Semester pertama menjadikan saya sosok orang yang hanya diam tanpa banyak bicara. Prinsip saat itu, saya tidak akan bicara jika tidak ada yang mengajak bicara. Rupanya luka lama sangat membekas. Ketakutan itu kian hari kian jelas tak ingin lepas. Ternyata selama ini saya tidak benar-benar merasa baik-baik saja. Saya hanya menyembunyikannya sementara. Sedangkan ketika dihadapkan pada situasi yang sama, kondisinya pun akan sama seperti awal mula trauma.
Dua semester saya lewati begitu saja dengan tanpa banyak bicara. Tapi dari sana saya juga banyak mempelajari suatu hal bahwa saya tidak bisa menilai semua orang dengan pandangan yang sama. Mereka berbeda sengan teman-teman SMP yang pernah habis-habisan membully saya. Mereka lebih menghargai arti perbedaan yang sebenarnya. Lebih tepatnya mungkin saya ditempatkan pada orang-orang yang memiliki pola pikir lebih dewasa bila dibandingkan teman-teman SMP yang terlalu sempit pemikirannya. Maaf, saya katakan demikian. Karena hal ini pun tidak seberapa dengan apa yang telah dilakukan selama 3 tahun tanpa penghentian.
Dari dua semester saya mempelajari bahwa trauma sebesar apapun bisa dihadapi pelan-pelan. Bersahabat dan berkawan dengan keadaan. Memaknai semuanya bahwa bersahabat dengan keadaan bukanlah hal buruk bagi kita. Bahwa kebaikan akan selalu datang dari mana saja, dari siapa saja, dari kapan saja maupun dari bagaimana saja. Ketakutan akan tetap menjadi sebuah ketakutan jika tidak dihadapi dengan keberanian. Berani untuk membuka diri, berbaur dengan banyak perbedaan. Toleransi terhadap sebuah argumentasi.
Semester tiga saya mulai terbiasa dengan semuanya, membuka suara, membuka pendapat, berani menyapa duluan, mengajak berbicara bahkan kepada sesiapa saja. Baik dari dalam kelas maupun luar kelas. Semuanya perlahan terasa menyenangkan. Memang tidak semua bisa disebut teman. Tidak semua bisa dijadikan dekat. Namun begini saja sudah cukup bagi saya. Trauma itu kali ini saya rasa benar-benar memudar. Perasaan untuk memaafkan orang-orang yang menyakiti sudah terlunaskan. Keinginan buruk atau kemungkinan buruk dahulu yang pernah terbelesit untuk diri sendiri sudah dibuang jauh-jauh. Jika saja beberapa tahun silam saya tidak mendengar sebuah ceramah dari salah satu ustadz soal kehidupan, mungkin hari ini tulisan ini tidak ada. Ingat sekali ketika saya bertanya ia menjawab, "Seseorang yang dalam hidupnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, dia berarti tidak memiliki iman. Imannya sudah hilang bersama jiwanya. Keyakinannya sudah musnah."
Seperti tertampar begitu keras, segala hal-hal baik selalu datang dari segala penjuru. Semakin dewasa semakin menyadari bahwa teman bukan hanya menemani saat senang namun juga dalam ambang kebingungan, kesedihan, dan keputusasaan. Saya pikir keadaan yang saya alami pernah dirasakan oleh anak-anak yang lainnya. Tapi banyak diantaranya hanya diam tanpa pengungkapan. Mengapa demikian? Jawabannya karena ia tidak tau kepada siapa ingin bercerita, tidak tau setelah cerita akankah baik-baik saja atau justru mengundang malapetaka? Ia lebih dulu dihantui rasa ketakutan yang begitu besar hingga akhirnya dia tidak bisa bercerita. Tidak tau bagaimana mengawalinya. Tidak tau cara menyampaikannya. Mungkin sesekali akan dibarengi dengan air mata. Itu hal yang sangat wajar. Sebab yang ia pendam adalah emosi. Emosi takut bercampur ingin berontak, tapi dia tidak berdaya. Ia mengira bahwa itu akan memperkeruh suasana. Hingga akhirnya ia terpendam begitu lamanya. Menahun hingga tertimbun.
Kini semuanya sudah lepas. Perasaan yang menjerat sudah terlepaskan. Terima kasih, untuk segala bagian dalam kehidupan. Memang benar, kehidupan adalah tempat untuk belajar. Belajar memahami bahwa semuanya akan menjadi baik di suatu masa. Alhamdulillah, kita tidak memutuskan berhenti melangkah meski terlihat sangat susah. Terima kasih, untuk orang-orang yang selalu hadir silih berganti memberikan pembelajaran. Bahwa puncak dari sebuah kejadian adalah keikhlasan. Syukur yang tak terukur selalu dipanjatkan. Terima kasih sudah tidak lagi menjadi bagian kelam sebuah pembullyan habis-habisan. Terima kasih sudah membaca hingga di tulisan ini.
Bagian kelam saya biarkan menjadi catatan kehidupan untuk pembelajaran di masa mendatang. Bahwa sesempurna apapun saya besok menjadi seorang perempuan di mata orang-orang, bagian lusuh ini tidak hilang. Ia hanya telah tersimpan begitu baik di atas tumpukan cerita-cerita yang lainnya. Mengajarkan diri sendiri bahwa bagian kelam ini telah menemui titik terang. Telah menyinari kehidupan banyak orang. Telah mengasihi banyak penghidupan.
Setiap orang memiliki masa kelam dan suramnya sendiri dalam kehidupan. Entah ia ingin diceritakan dalam sebuah catatan atau ia rahasiakan. Semua punya titik hitamnya tersendiri yang pasti menuntunnya ke jalan yang menemui cahayanya. Sampai ia tiba di cahaya, ia tersenyum bahagia. Dirinya telah bisa melewati segalanya. Kepada sesiapa saja yang pernah melewati masa kelamnya, selamat! Kalian sangat hebat! Kepada sesiapa saja yang masih survive untuk melewatinya, saya yakin kalian akan bisa menemui cahaya terang itu. Menyapa kehangatannya. Memeluknya begitu lekat. Berceritalah kepada sesiapapun yg kau percaya. Apalagi kepada Tuhan. Ia pasti akan mendengar, ia pasti mengabulkan. Ini hanya persoalan waktu yang belum berujung titik temu. Waktu saya tentu berbeda denganmu. Jika saya cukup lama, mungkin kamu hanya tinggal menunggu sebentar saja. Kamu tentu percaya kan? Tuhan tidak pernah tertidur.
Komentar
Posting Komentar